Lisandro Martínez Bongkar Kepemilikan Manchester United

Kritik Lisandro Martínez terhadap kepemilikan Manchester United menjadi salah satu momen paling terbuka yang pernah dilontarkan seorang pemain aktif di klub itu. Berbicara di Amazon Prime usai timnya kalah 2-0 dari Atlético Madrid pada Selasa malam, bek asal Argentina tersebut menuding jajaran direksi—dan secara spesifik menyebut direktur teknis Jason Wilcox—gagal memberikan investasi yang cukup pada bursa transfer musim panas. Pernyataan itu tidak hanya menyinggung soal belanja pemain, tetapi juga menohok cara klub dijalankan oleh para pemiliknya selama bertahun-tahun.

Reaksi pun datang cepat dari kalangan mantan pemain United. Wayne Rooney menilai sikap Martínez tidak menghormati klub, Ashley Young merasa bek itu tidak punya hak untuk berbicara seperti itu, dan Rio Ferdinand mengingatkan lewat podcast-nya bahwa hal semacam ini biasanya berakhir buruk. Kolumnis The Guardian, Jonathan Liew, menilai reaksi tersebut justru memperlihatkan kecenderungan lama sepak bola Inggris: mempersoalkan sosok pembawa pesan selalu terasa lebih mudah daripada benar-benar mendengarkan isi pesannya. Padahal, menurut Liew, pandangan Martínez disebutnya sejalan dengan apa yang dirasakan banyak orang di dalam ruang ganti United.

Apa Sebenarnya Isi Kritik Lisandro Martínez?

Inti keluhan Martínez cukup sederhana: United tidak berinvestasi memadai pada musim panas. Klub mendatangkan tiga gelandang, yakni Andrey Santos, Youri Tielemans, dan Carlos Baleba, plus seorang kiper cadangan Karl Darlow. Namun tidak ada satu pun pemain depan baru, dan yang paling mencolok, tidak ada tambahan kekuatan di lini belakang—padahal Martínez sendiri beroperasi di sektor itu. Kritik itu datang dari pemain yang juga disebut turut bertanggung jawab atas awal musim yang tidak meyakinkan, menyusul kesalahan defensifnya melawan Fulham dan Tottenham.

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa United tidak membeli bek sama sekali, padahal mereka sempat mengejar Lewis Hall dan Myles Lewis-Skelly. Jawabannya berlapis: klub tidak bisa merekrut bek karena tidak mampu menjual bek lebih dulu. Tidak ada peminat untuk Diogo Dalot maupun Noussair Mazraoui, juga tidak untuk Harry Maguire, Luke Shaw, atau Martínez sendiri, yang kontraknya akan habis pada musim panas berikutnya. Situasi ini bukan hasil keputusan mendadak, melainkan buah dari kebijakan rekrutmen dan kontrak yang ditandatangani bertahun-tahun sebelumnya.

Dari sini terlihat bahwa persoalan yang diangkat Martínez jauh lebih rumit daripada sekadar daftar nama pemain yang gagal dibeli. Ada rantai sebab-akibat yang saling terhubung antara penjualan, harga, dan kebijakan keuangan klub. Menyalahkan satu pihak saja, entah pelatih atau direktur teknis, berarti mengabaikan lapisan masalah yang lebih dalam.

Mengapa Manchester United Harus Menjual Dulu untuk Membeli?

United sempat mundur dari harga yang diminta untuk Elliot Anderson, lalu memilih Santos yang dinilai tidak konsisten dan Tielemans yang dianggap memadai tetapi “dipromosikan” melebihi kapasitasnya. Pola ini menunjukkan sebuah klub yang sedang menjalankan langkah penghematan ketat. Pemilik sebagian, Jim Ratcliffe, dilaporkan gencar memangkas biaya dan menaikkan harga tiket, dengan tekad menghentikan kebiasaan boros yang terjadi sebelum ia masuk.

Kebiasaan boros yang dimaksud bukanlah hal kecil. Selama bertahun-tahun, pemain berlabel medioker didatangkan dengan bayaran yang tidak masuk akal, sementara pelatih yang gagal justru dibayar mahal untuk pergi. Semua pengeluaran itu meninggalkan beban yang harus ditanggung sekarang, ketika klub berusaha menyeimbangkan pembukuan. Karena itu, keharusan menjual sebelum membeli bukan sekadar strategi, melainkan konsekuensi dari warisan finansial masa lalu.

Namun muncul pertanyaan lanjutan yang lebih mendasar: mengapa klub sekaya dan sekomersial United sampai harus berhemat? Jawabannya membawa kita kembali ke persoalan yang paling jarang disentuh, yaitu kepemilikan klub itu sendiri.

Akar Persoalan Ada pada Kepemilikan Manchester United

Keluarga Glazer telah mengendalikan United selama 21 tahun, dan dalam periode itu lebih dari £1 miliar dana mengalir keluar dari klub. Uang tersebut tidak hanya keluar dalam bentuk dividen, tetapi juga melalui penjualan saham dan pembayaran bunga atas utang yang diambil untuk membeli klub. Pada saat yang sama, perawatan Old Trafford dan pusat latihan Carrington justru terabaikan.

Dengan konteks itu, keluhan Martínez soal kurangnya investasi sebenarnya menyentuh hal yang lebih besar. Sadar atau tidak, ia sedang menuntut pertanggungjawaban Glazers atas lebih dari dua dekade keserakahan dan tata kelola yang buruk. Inilah yang membuat pernyataannya berbeda dari sekadar keluhan seorang pemain yang kecewa karena klub tidak membeli bek baru.

Dampak bagi Tim, Suporter, dan Posisi Michael Carrick

Dalam jangka pendek, kritik terbuka seperti ini hampir pasti tidak membantu United memenangi pertandingan. Martínez berusaha mengklarifikasi komentarnya melalui unggahan di media sosial pada Rabu malam, tetapi ia tetap berisiko disingkirkan dari skuad utama. Hukumannya datang bukan karena isi ucapannya salah, melainkan karena ia berani mengungkapkannya di ruang publik.

Sosok yang kini memimpin United, Michael Carrick, juga diprediksi tidak akan bertahan lama. Beberapa bulan sebelumnya Liew menulis dengan penuh harap bahwa Carrick adalah orang yang tepat untuk memotong kebisingan dan omong kosong di sekitar klub—sebuah harapan yang menurutnya kini terbukti keliru, karena kredit dari musim lalu sudah menguap. Bukan salah Carrick bahwa United tidak mendatangkan bek baru hampir dua tahun, bahwa Bruno Fernandes jelas bermain sambil menahan rasa tidak nyaman, atau bahwa Joshua Zirkzee masih saja berada di skuad.

Tekanan yang sama juga terasa di tribun penonton. Manajemen memutuskan melakukan pembersihan pemegang tiket musiman pada musim panas, yang memicu gelombang kekecewaan dan apatisme luas di Old Trafford pada hari pertandingan. Banyak pendukung kini tengah bertanya pada diri sendiri apakah mereka masih benar-benar peduli pada klub ini. Situasi itu memperlihatkan bahwa persoalannya bukan lagi soal hasil di lapangan semata, melainkan soal hubungan emosional antara klub dan basis pendukungnya.

Di sisi lain, akuntabilitas tampaknya hanya berlaku bagi “orang kecil”. Mengganti pelatih dengan kontrak 20 bulan jauh lebih mudah daripada menyingkirkan Ineos atau Glazers, atau mengganti Jason Wilcox dan Omar Berrada. Padahal, menurut Liew, reputasi sebagian dari mereka dibangun di atas kesuksesan sebuah klub yang terbukti melakukan kecurangan secara berulang.

Preseden dan Konteks Sepak Bola Inggris yang Lebih Luas

Sejauh mana pernyataan Martínez bisa disebut berani? Liew mengingatkan bahwa sangat jarang pemain United yang masih aktif bicara sejujur itu tentang bobroknya kepemilikan Glazer. Ole Gunnar Solskjær pernah membuat pernyataan kecil pada awal 2005, sebelum keluarga Glazer resmi masuk. Cristiano Ronaldo melempar kritik pada 2022, beberapa hari sebelum meninggalkan klub untuk kedua kalinya.

Sisanya memilih menunggu masa pensiun, ketika kekecewaan bisa dijual sebagai konten demi keuntungan pribadi tanpa risiko dikucilkan. Martínez, sebaliknya, kemungkinan besar akan menerima stigma dalam beberapa hari ke depan. Pola ini menunjukkan bahwa budaya diam—semacam kode kehormatan ruang ganti—masih sangat kuat di sepak bola Inggris.

Kasus hukum Manchester City, menurut Liew, menjadi contoh betapa enggannya sepak bola Inggris mengkritik para pemilik dan eksekutif yang pengaruhnya jauh lebih besar dari siapa pun. Perhatian publik lebih mudah diarahkan pada pemain di lapangan, bukan pada orang-orang berjas di ruang direksi. “Awas, bola akan bergerak,” begitu kira-kira gambaran sindiran Liew soal ke mana sorotan selalu dibelokkan.

Penutup

Kritik Lisandro Martínez memang tidak akan langsung membuat Manchester United menang, dan ia sendiri berisiko menanggung akibatnya di ruang ganti. Namun pernyataannya membuka percakapan yang selama ini jarang muncul: soal ke mana uang klub pergi, siapa yang paling bertanggung jawab, dan mengapa yang paling sering diganti justru pelatih, bukan pemilik atau eksekutifnya.

Imbal hasil besar bagi pemilik, harga tiket yang naik bagi pendukung, dan penghematan di atas lapangan—itulah gambaran Manchester United masa kini. Dan seperti yang disiratkan Liew, kisah itu bukan kebetulan semata: ia juga merupakan cerminan dari wajah sepak bola modern secara keseluruhan.