Torreense, klub kasta kedua Portugal, akhirnya akan memainkan laga kandang pertama mereka di kompetisi Eropa saat menjamu Sunderland pada Kamis (17.45 BST). Partai ini menjadi tonggak bersejarah bagi sebuah tim kecil yang bermarkas 35 mil di utara Lisbon, sekaligus pembuka rangkaian pertemuan berat melawan Celtic, Real Sociedad, dan Olympiacos di Liga Europa.
Momen ini terasa istimewa karena Torreense belum pernah sekalipun tampil di depan pendukung sendiri dalam ajang antarklub Eropa. Sepanjang musim ini, mereka akan bersua Ferencvaros, Ararat-Armenia, Lech Poznan, dan sejumlah nama besar lainnya hingga akhir Januari. Andre Sabino, direktur sepak bola sekaligus CEO klub, menyebut pencapaian tersebut sebagai titik balik yang tak ternilai bagi sebuah tim yang sehari-hari berkutat di divisi dua.
Dari Piala Portugal ke Liga Europa
Jalan Torreense menuju Liga Europa dibuka dengan cara yang nyaris mustahil diulang. Pada Mei lalu, mereka menumbangkan raksasa Portugal, Sporting, untuk menjuarai Taca de Portugal. Kemenangan itu otomatis mengantar klub yang berlokasi di Torres Vedras tersebut ke fase liga kompetisi antarklub terbesar kedua di Benua Eropa.
Di kompetisi reguler, jadwal Torreense jauh dari kesan megah. Lawan-lawan mereka musim ini mencakup tim ‘B’ Sporting, Benfica, dan Porto. Kontras antara papan klasemen divisi dua dan panggung Eropa inilah yang membuat kisah mereka terasa begitu menarik bagi publik sepak bola Portugal.
“Ini adalah momen yang sangat penting,” ujar Sabino kepada BBC Sport. Menurutnya, kesempatan berbagi panggung dengan klub-klub beridentitas kuat dan berpengalaman luas di Eropa adalah sebuah kehormatan. Namun ia menegaskan, Torreense tidak datang sekadar untuk melengkapi daftar peserta. “Kami ingin bertanding,” tegasnya.
Prestasi yang Disebut Tak Akan Terulang
Klub divisi dua sebenarnya pernah mencicipi kompetisi Eropa, ketika Beira-Mar tampil di Piala UEFA 1999-2000. Bedanya, Beira-Mar saat itu adalah tim kasta teratas pada masa kualifikasi. Torreense mencatatkan sejarah berbeda: mereka menjadi tim divisi dua pertama yang lolos dengan cara menjuarai Taca de Portugal.
Konteks sejarahnya membuat pencapaian ini makin luar biasa. Piala Portugal telah berjalan dengan format yang berlaku sekarang sejak 1938, dan selama puluhan tahun belum pernah ada tim kasta kedua yang menjuarainya. Jurnalis sepak bola Portugal sekaligus mantan kiper Benfica, Jose Delgado, mengakui bahwa mengalahkan klub raksasa seperti Sporting di partai final adalah kejutan besar bagi kota kecil tersebut.
Pelatih Torreense saat ini adalah Luis Tralhao, yang memiliki keterkaitan menarik dengan dunia sepak bola elite. Sang adik, Joao Tralhao, tengah menjabat sebagai asisten Jose Mourinho di Real Madrid. Latar belakang itu menunjukkan bahwa klub sekecil Torreense tetap memiliki jalur ke lingkaran teratas sepak bola Eropa.
Sudah Melampaui Ekspektasi
Pada debut Eropa mereka, Torreense bertandang ke Norwegia dan mengalahkan Lillestrom. Hasil itu langsung mematahkan pesimisme banyak pihak, termasuk perkiraan Delgado sendiri. “Saya sempat berpikir Torreense akan melewati fase liga Liga Europa tanpa satu poin pun,” ujarnya. “Kenyataannya mereka sudah mengumpulkan tiga poin dan itu berarti sesuatu.”
Delgado bahkan menyebut pencapaian ini sebagai hal yang mungkin tidak akan pernah terulang dalam sepak bola Portugal. Ia menggambarkannya seperti dongeng, mengingat status Torreense sebagai klub kecil. Namun justru dari situ muncul kekhawatiran tersendiri bagi sepak bola Portugal secara keseluruhan.
Portugal saat ini berada di luar lima liga teratas ranking UEFA, sehingga setiap wakilnya di Liga Champions, Liga Europa, maupun Conference League memikul tanggung jawab besar untuk meraih poin demi reputasi nasional. “Bagi sepak bola Portugal, semua orang senang klub seperti Torreense menjuarai piala, tapi kami juga sempat cemas,” tutup Delgado.
Laga Kandang yang Jauh dari Rumah
Ironi menyertai perjalanan kandang Torreense. Stadion mereka, Estadio Manuel Marques, hanya berkapasitas 2.431 penonton dan tidak memenuhi kriteria venue UEFA. Akibatnya, laga melawan Sunderland akan digelar hampir 47 mil dari markas asli, tepatnya di Stadion Municipal di Leiria, dengan total perjalanan bolak-balik mencapai sekitar 150 kilometer.
Sabino mengakui bahwa situasi ini jelas tidak ideal. Bermain di kandang seharusnya berarti tampil di stadion sendiri, di hadapan pendukung sendiri, dengan atmosfer yang merepresentasikan identitas klub. Meski begitu, ia memahami sepenuhnya tuntutan logistik dan regulasi yang melekat pada kompetisi Eropa.
Alih-alih mengeluh, Torreense memilih melihat gambaran besar. Klub bersyukur atas kesempatan berlaga di Liga Europa dan bertekad membuat Leiria terasa seperti rumah sendiri. Tambahan jarak perjalanan pun ternyata tidak menyurutkan antusiasme pendukung, yang menurut Sabino merespons dengan luar biasa karena sadar ini adalah momen bersejarah.
Dana Segar dan Gelombang Rekrutan Baru
Lolos ke fase liga Liga Europa membawa dampak finansial yang signifikan. Torreense dijamin menerima suntikan dana minimal 5 juta euro, setara sekitar 4,2 juta poundsterling, dan setiap hasil positif maupun babak tambahan yang dilalui akan menambah pundi-pundi tersebut. Bagi klub sekecil mereka, nominal itu tergolong sangat besar.
Uang itu membuka peluang memperkuat klub di berbagai lini dan mempercepat proyek yang normalnya butuh waktu jauh lebih lama. Meski demikian, Sabino menegaskan pihaknya harus tetap bertanggung jawab dan tidak terjebak belanja berlebihan. Tujuannya bukan sekadar membelanjakan lebih banyak, melainkan berinvestasi secara cerdas demi pertumbuhan klub yang berkelanjutan.
Sejauh ini Torreense telah mendatangkan 19 pemain baru dari 10 negara berbeda. Lima rekrutan datang dari kasta teratas Portugal, sisanya dari Prancis, Yunani, Spanyol, Serbia, Brasil, Denmark, Maroko, dan Jerman, dengan mayoritas berasal dari luar kompetisi elite negara masing-masing. Dari total 32 pemain senior dalam skuad, hanya empat yang berpaspor Portugal.
Sayangnya, performa di liga domestik belum mengikuti euforia Eropa. Musim lalu Torreense gagal promosi otomatis karena selisih gol sebelum akhirnya tersingkir di play-off, dan musim ini mereka baru memenangkan satu dari tujuh laga pembuka. Pada Mei, kekalahan agregat 2-0 dari Casa Pia di play-off promosi-degradasi menutup impian kembali ke kasta teratas Portugal untuk pertama kalinya sejak 1991-92.
Konteks Lebih Luas bagi Sepak Bola Portugal
Di Portugal, mayoritas penggemar sepak bola mendukung salah satu dari tiga klub besar: Porto, Benfica, atau Sporting. Menurut Delgado, pendukung tuan rumah bahkan terkadang bersorak untuk tim tamu yang lebih ternama ketika bertandang. Kondisi ini menggambarkan betapa beratnya klub kecil membangun basis suporter yang solid.
Delgado menilai saat ini ada simpati besar terhadap Torreense, tetapi ia ragu simpati tersebut akan berubah menjadi lonjakan jumlah penggemar tetap. Menurutnya, kehadiran di kompetisi Eropa lebih berpotensi menarik perhatian investor untuk melihat klub ini dari sudut pandang berbeda dan menyuntikkan dana ke dalamnya.
Kisah Torreense juga mencerminkan tren yang lebih luas dalam sepak bola Eropa modern, di mana klub-klub kecil dari liga di luar elit mampu memanfaatkan kompetisi antarklub sebagai panggung eksposur sekaligus sumber pendapatan. Kesuksesan semacam ini memperlihatkan bahwa kompetisi domestik dan putaran kualifikasi Eropa masih menyimpan ruang bagi kejutan.
Penutup
Perjalanan Torreense di Liga Europa adalah gabungan antara keberanian di lapangan, perhitungan finansial yang cermat, dan dukungan suporter yang tak surut meski harus menempuh puluhan kilometer. Dari menjuarai Piala Portugal hingga mengalahkan Lillestrom, klub kecil dari utara Lisbon ini telah membuktikan bahwa status bukan segalanya.
Kini tantangan sesungguhnya menanti: menjamu Sunderland di Leiria, lalu berhadapan dengan Celtic, Real Sociedad, dan sederet nama besar lainnya. Apa pun hasilnya, Torreense sudah menorehkan babak yang jarang terjadi dalam sejarah sepak bola Portugal, dan mereka berniat menikmatinya sepenuhnya.
