Nama Rui Pinto mungkin masih terasa asing bagi sebagian besar pendukung Manchester City yang berkumpul di sekitar Stadion Etihad. Namun karya peretas asal Portugal itu justru begitu akrab bagi mereka: rangkaian kebocoran dokumen rahasia yang menjadi pemicu badai terbesar dalam sejarah modern klub. Dari situlah bermula dakwaan Premier League atas dugaan pelanggaran aturan keuangan, yang berpuncak pada putusan bahwa Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 dakwaan yang diajukan.
Pinto bukan sekadar peretas biasa. Lewat situs Football Leaks, ia membeberkan tumpukan dokumen internal klub, mulai dari surat elektronik soal kesepakatan sponsor hingga rincian pembayaran yang seharusnya tak pernah dilihat publik. Bagi sebagian orang ia penjahat yang mencuri data dengan niat tersembunyi; bagi yang lain ia adalah pembawa kebenaran yang menyorot sisi gelap industri sepak bola. BBC Sport menempuh perjalanan melintasi Eropa untuk menelusuri sosok misterius di balik kontroversi ini, mewawancarai mantan gurunya, seorang politikus Portugal yang membelanya, para jurnalis yang menerbitkan bocoran tersebut, hingga mantan penasihat keuangan Manchester City.
Rui Pinto dan Cara Kerja Football Leaks
Pinto mendirikan Football Leaks pada 2015 dengan tujuan, menurut pengakuannya sendiri, mengungkap “sisi tersembunyi sepak bola”. Jurnalis Portugal bernama Antonio Varela mengingat betul hari peluncuran situs itu. Ia adalah orang pertama yang dihubungi Pinto, yang saat itu masih memakai nama samaran “John” dan identitas aslinya baru terungkap bertahun-tahun kemudian. Varela menyebut momen itu terjadi pada sebuah hari biasa di September 2015, ketika ia sedang berada di ruang redaksi surat kabar olahraga Record.
“Saya menerima email dari Football Leaks. Aneh rasanya. Lalu saya langsung membuka situsnya, dan saya tak percaya ada begitu banyak informasi yang belum pernah Anda dengar atau baca. Kami menyimpulkan ini sangat, sangat penting,” kenang Varela. Namun menerbitkan ulang apa yang dibocorkan Pinto memunculkan dilema hukum sekaligus etika. Menurut Varela, timnya sadar bahwa informasi itu diperoleh secara ilegal, tetapi begitu dipublikasikan di situs, statusnya berubah menjadi informasi publik. “Kami tidak bisa mengabaikannya. Secara etika rumit, tetapi kepentingan publik lebih relevan daripada persoalan etika. Itulah kesimpulannya,” ujarnya.
Sasaran Pinto bukan hanya juara Premier League delapan kali itu. Bocoran-bocoran awal di Football Leaks justru menyorot perkara yang lebih dekat ke rumah, termasuk Benfica dan bahkan FC Porto, klub yang ia dukung. Belakangan, dokumen serta komunikasi yang bocor menyangkut sejumlah pemain, klub, dan agen paling terkenal di dunia, seperti Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Neymar. Pinto kemudian bersedia bertemu jurnalis Rafael Buschmann dari majalah Jerman Der Spiegel. Setelah merasa bisa mempercayainya, ia membagikan puluhan juta dokumen kepada Buschmann.
Tim jurnalis di kantor pusat Der Spiegel di Hamburg lalu menelaah seluruh berkas itu dengan teliti, menghasilkan sejumlah artikel paling mengguncang yang pernah ada di dunia sepak bola. Christoph Winterbach, jurnalis data yang menjadi bagian tim tersebut, mengaku awalnya merasa seperti “anak kecil di toko permen” karena bisa melihat langsung dokumen dan email negosiasi di balik layar. Meski begitu, ia menekankan pentingnya verifikasi silang, penggunaan perangkat lunak untuk menempatkan data dalam konteks, serta memastikan materi autentik dan layak demi kepentingan publik. Secara keseluruhan, Pinto memasok lebih dari tiga terabyte informasi, setara sekitar 3.000 salinan Encyclopaedia Britannica, kepada Der Spiegel dan media lain yang tergabung dalam konsorsium European Investigative Collaborations.
Dari Vila Nova de Gaia ke Pusaran Kontroversi
Pinto tumbuh dari keluarga sederhana di kawasan Vila Nova de Gaia, tepat di seberang Sungai Douro dari Porto, kota terbesar kedua di Portugal. BBC Sport mengunjungi jalan tempat ia dulu tinggal, yang dipenuhi rumah beratap terakota dengan fasad berlapis keramik. Sekolahnya, Escola Secundaria Almeida Garrett, dikenal baik dan oleh warga setempat dijuluki “universitas”. Ayahnya, Francisco, bekerja di pabrik sepatu dan kemudian menjadi pedagang barang antik, sementara ibunya meninggal ketika Pinto berusia 11 tahun.
Guru geografi sekaligus mantan gurunya, Mario Falcao, mengingat Pinto sebagai murid yang sepenuhnya normal. “Rui murid yang baik, dengan rambut berdiri seperti yang khas, cukup supel tapi tidak ekstrover. Hubungannya dengan para guru bagus, meski ia cukup sering bolos. Ayahnya selalu mengawasi, jadi pada akhirnya ia lulus dengan mudah,” tutur Falcao. Ketika ditanya apakah ia melihat minat besar Pinto pada komputer, Falcao menjawab bahwa mantan muridnya itu memang sangat mahir di bidang tersebut. Kini pensiun, Falcao mengenang Pinto dengan penuh kasih, menyebut remaja itu berperilaku seperti teman-temannya, pergi ke gym dan makan di McDonald’s.
Falcao mengaku sama sekali tidak menduga apa yang kemudian terjadi pada muridnya. “Kami sangat terkejut,” ujarnya saat Pinto disebut sebagai pendiri Football Leaks pada 2019. Ia menjelaskan bahwa tak ada yang membayangkan hal seperti ini bisa terjadi atau bahwa Pinto akan berurusan dengan hukum. “Mungkin ini soal kenakalan masa muda, kemampuannya di komputer, dan mungkin juga fanatisme klub berlebihan,” katanya. Menurut Falcao, fakta bahwa Pinto mendukung FC Porto mendorongnya melakukan sejumlah tindakan, tetapi bisa jadi ia juga merasakan kebutuhan akan keadilan yang kerap muncul pada anak muda.
Dampak Football Leaks bagi Manchester City
Dampak Football Leaks masih terasa hingga satu dekade kemudian. Kasus yang dihadapi Manchester City di Premier League menjadi salah satu perkara dengan skala dan makna yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tim hukum Pinto mengaku klien mereka mengikuti perkembangan kasus itu dengan saksama dari lokasi perlindungan saksi sejak Premier League mengajukan dakwaan pada Februari 2023.
Pinto sendiri sudah lama mendambakan pengakuan bahwa kerja yang dilakukannya membawa hasil. Francisco Texeira da Mota, pengacara yang mewakilinya, mengatakan hasil kasus itu penting bagi kliennya karena hidup Pinto saat ini sangat sulit, hidup dalam ketersembunyian akibat pengungkapan yang dibuatnya. “Akan penting baginya untuk merasa dibenarkan bahwa hal itu berguna, bahwa sesuatu terjadi, karena apa yang ia ungkapkan,” ujar Texeira da Mota.
Sebelum putusan dalam kasus City diumumkan, Stefan Borson, mantan penasihat keuangan Manchester City, menilai taruhannya sangat besar. “Bagi City, seluruh era Sheikh Mansour dipertaruhkan jika tuduhan inti terbukti terhadap klub. Konsekuensinya bisa sangat luas dan akan sangat sulit bagi mereka untuk menghadapinya. Seiring waktu, jelas akan ada semacam reset. Menurut saya, bagaimana pun, Premier League adalah pihak yang kalah,” katanya.
Borson juga enggan menempatkan Pinto sebagai figur yang layak dibela. Menurutnya, apa yang dilakukan Pinto adalah tindakan kriminal dan ia telah dituntut karenanya. Ia menambahkan bahwa peretas semacam itu kerap berupaya membingkai ulang diri mereka sebagai pejuang kebebasan berbicara dalam proses pembelaan. Namun, sekali dokumen berada di ranah publik, menurut Borson, otoritaslah yang seharusnya bertindak.
Pahlawan atau Penjahat?
Di setiap tempat yang disinggahi BBC Sport, pandangan tentang Pinto terbelah tajam. Ana Gomes, mantan politikus dan diplomat Portugal yang pernah menjabat anggota Parlemen Eropa, telah bertemu Pinto di penjara dan bersaksi untuk membelanya di salah satu persidangan. Ia meyakini Pinto layak dilindungi, bukan dituntut. “Apa yang ia ungkap sangat penting. Di Portugal, jelas dia adalah whistleblower yang paling penting sejauh ini,” kata Gomes. Ia menilai Pinto seharusnya dijadikan mitra otoritas investigasi, karena telah membantu aparat di negara Eropa lain memburu pelaku korupsi dan kejahatan, alih-alih menjadi sasaran penuntutan.
Saat ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada Manchester City, yang emailnya diretas Pinto, jawaban Gomes blak-blakan. “Saya tidak peduli. Kalau mereka tak punya apa pun untuk disembunyikan, apa masalahnya?” ujarnya. Namun pandangan simpatik itu bukan yang paling luas dianut. Jurnalis pensiun Jose Carlos Freitas mengatakan bahwa bagi mayoritas orang, Pinto dipandang sebagai pencuri. “Bagi sebagian orang, dia semacam pahlawan, Robin Hood, karena mengungkap sisi gelap bisnis banyak klub. Tapi sayangnya bagi mayoritas orang, dia bukan orang baik,” jelasnya.
Varela memilih berdiri di tengah. “Sekarang saya menempatkannya di tengah-tengah, karena dia memperoleh informasi itu secara ilegal. Tapi dia memberi kita semua sebuah pandangan, sisi kelam sepak bola Eropa, jadi ia melakukan pekerjaan bagi masyarakat dengan cara ilegal,” tuturnya. Apa pun posisi seseorang dalam perdebatan ini, Pinto telah menghadapi konsekuensi berat atas perbuatannya. Seperti diungkapkan Winterbach, Pinto “memiliki musuh-musuh yang kuat” akibat pekerjaan yang telah ia lakukan.
Hidup dalam Perlindungan Saksi dan Rentetan Persidangan
Selama enam tahun terakhir, hidup Pinto jauh dari kata normal. Setelah ditangkap di Hongaria pada 2019, ia diekstradisi ke Portugal dan pada berbagai periode menjalani isolasi, tahanan rumah, hingga masuk program perlindungan saksi. Pada persidangan pertamanya di Portugal tahun 2023, ia dijatuhi hukuman empat tahun percobaan setelah dinyatakan bersalah atas percobaan pemerasan, akses data secara ilegal, dan pelanggaran korespondensi. Persidangan terpisah di Prancis beberapa bulan kemudian menghasilkan hukuman enam bulan penjara percobaan.
Pada Januari tahun lalu, persidangan terbaru Pinto dimulai di Lisbon. Hari pembukaan di Pengadilan Pidana Pusat itu menggambarkan betul realitas hidupnya sekaligus perbedaan pandangan tentang dirinya. Pinto datang bersama anggota tim perlindungan saksi, dua di antaranya bertahan di ruang sidang sepanjang persidangan, disertai kehadiran polisi bersenjata. Ia mengenakan atasan biru lengan panjang, jeans, dan sepatu bot cokelat, dengan rambut berdiri khasnya serta sedikit jenggot. Sepanjang sidang ia nyaris tanpa ekspresi, kecuali sesekali mengangkat bahu atau melirik timnya. Ketika diminta menyebutkan alamatnya, ia menolak dengan alasan keamanan.
Jurnalis lokal Miguel Dantas menjelaskan bahwa pengaturan keamanan kali ini lebih longgar dibanding persidangan pertama, ketika Pinto mengenakan rompi antipeluru dan ada penembak jitu di atas atap gedung. Di ruang sidang, Rui Patricio, pengacara yang mewakili Benfica, menyebut Pinto “tidak lebih dan tidak kurang dari seorang pencuri”, karena memperoleh informasi dengan “metode ilegal dan tercela”, serta menegaskan bahwa tujuan tidak menghalalkan cara. Di luar court, Patricio menambahkan bahwa argumen pihaknya sederhana: Pinto adalah peretas, apa yang ia lakukan adalah kejahatan, dan tidak ada alasan yang bisa membenarkannya.
Dalam pernyataannya di pengadilan, Francisco Texeira da Mota, yang mewakili Pinto, mengakui bahwa kliennya “bukan pahlawan dan bukan orang suci”. Meski demikian, ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan Pinto telah membawa “keuntungan bagi masyarakat”. Pernyataan itu merangkum betul posisi Pinto: sosok yang jauh dari sempurna, tetapi jejaknya tak bisa diabaikan.
Bagi sebagian orang, Rui Pinto adalah peretas kriminal yang mencuri informasi dengan niat buruk. Bagi yang lain, ia adalah whistleblower heroik yang menyorot sisi gelap industri sepak bola. Apa pun penilaiannya, satu hal tak terbantahkan: seorang pria Portugal di depan komputernya di Budapest telah meninggalkan dampak yang mengguncang sepak bola global, dan gaungnya masih terasa hingga hari ini.
