Lexi Potter: Calon Bintang Baru Timnas Inggris Wanita

Nama Lexi Potter menjadi topik yang paling ramai diperbincangkan menjelang pengumuman skuad terbaru Timnas Inggris Wanita oleh Sarina Wiegman pada Selasa mendatang. Gelandang Chelsea berusia 20 tahun itu tampil konsisten sebagai salah satu pemain menonjol di Women’s Super League (WSL) musim ini, sehingga namanya kini disebut-sebut layak mendapat pemanggilan pertama ke tim senior. Penampilan impresifnya di lini tengah membuat publik sepak bola Inggris mulai serius membicarakan masa depannya bersama Lionesses.

Antusiasme terhadap Potter bukan tanpa alasan. Di saat Inggris masih mencari sosok yang mampu menggantikan Keira Walsh di posisi nomor enam, Potter hadir dengan profil yang dianggap mirip dan sudah terbukti mampu bersaing di level tertinggi. Mantan penyerang Lionesses, Ellen White, menyebutnya sebagai pemain yang istimewa, sementara bek Chelsea, Lucy Bronze, menilai Potter bisa menjadi Keira Walsh berikutnya. Pertanyaannya sekarang: apakah ia sudah siap masuk skuad Inggris untuk pertama kalinya pekan ini?

Penampilan Lexi Potter yang Mencuri Perhatian di WSL

Sebelum namanya meledak, Potter lebih dulu menunjukkan performa stabil saat Chelsea menghadapi Manchester United dan Birmingham City. Dua laga itu menjadi pemanasan sebelum ia benar-benar menarik perhatian publik lewat penampilan mengesankan kontra rival sekota, Arsenal. Pada laga tersebut, Potter tampil seolah sudah lama bermain di antara para pemain kelas atas Inggris, bukan seorang pemain berusia 20 tahun yang baru menembus tim utama.

Kontribusinya membantu Chelsea meraih kemenangan 1-0 atas Arsenal sekaligus mencatatkan clean sheet ketiga secara beruntun di liga. Gol kemenangan The Blues lahir dari sepakan Walsh yang berhasil diselamatkan kiper, lalu bola jatuh ke kaki Alyssa Thompson yang menyelesaikannya menjadi gol. Dalam laga itu, Potter menjadi bagian penting dari keseimbangan lini tengah Chelsea yang mampu menahan gempuran Arsenal hingga peluit akhir.

Potter juga tercatat mencetak gol dalam kemenangan 2-0 atas Birmingham. Musim ini, ia bahkan dipercaya menjadi starter bersama Walsh pada tiga dari empat pertandingan WSL yang sudah dijalani Chelsea. Kombinasi keduanya mulai berkembang, dan kehadiran Potter di sisi Walsh membuat lini tengah Chelsea terasa lebih solid sekaligus lebih hidup ketika membangun serangan.

Dari Akademi Chelsea hingga Dipinjamkan ke Crystal Palace

Potter bukan sosok yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan lulusan akademi Chelsea yang menembus tim utama pada musim lalu dan langsung mencetak gol kemenangan pada start pertamanya di WSL melawan Brighton pada Maret. Momen itu menjadi penanda bahwa ia layak diperhitungkan di skuad senior Chelsea, meski harus bersaing dengan banyak pemain bintang.

Sebelum menembus tim utama, Potter menghabiskan dua tahun masa peminjaman di Crystal Palace. Di sana ia mendapatkan menit bermain secara reguler bersama tim utama dan sudah mengumpulkan 20 penampilan. Pengalaman itu memberinya fondasi penting berupa ketenangan, kedewasaan bermain, serta pemahaman taktis yang kini terlihat saat ia tampil di level WSL.

Musim ini, langkahnya benar-benar naik satu tingkat. Ia tidak lagi sekadar pelapis, melainkan bagian dari rotasi utama yang dipercaya pelatih Sonia Bompastor. Kepercayaan itu dibayar dengan performa yang konsisten, terutama ketika Chelsea menghadapi lawan-lawan berat di awal musim.

Statistik: Akurasi Umpan 93 Persen dan 21 Recoveries

Data menunjukkan bahwa dampak Potter bukan sekadar kesan visual semata. Ia mempertahankan akurasi umpan mencapai 93 persen di WSL sejauh musim ini, sebuah angka yang sangat tinggi untuk seorang gelandang bertahan muda. Ia juga menempati peringkat keempat di antara rekan setimnya untuk jumlah tekel dan intersepsi, serta memiliki tingkat keberhasilan umpan terbaik ketiga di skuad Chelsea.

Potter sudah mencatatkan 207 menit bermain dan melakukan 21 kali recoveries atau penguasaan bola kembali di kompetisi liga. Yang tak kalah menarik, ia belum pernah berada di lapangan pada saat Chelsea kebobolan musim ini. Catatan itu menegaskan bahwa kehadirannya memberi keseimbangan tersendiri bagi lini pertahanan The Blues.

Gaya bermainnya juga memperlihatkan keberanian untuk keluar dari tekanan dengan umpan pendek, bukan sekadar membuang bola ke depan. Bompastor menilai, kehadiran Potter membuat Walsh punya lebih banyak kebebasan untuk naik ke depan. Menurutnya, Walsh bisa tampil di level tertinggi saat ini justru karena ada Lexi di sampingnya yang menjaga area belakang.

Pujian Bompastor, White, dan Bronze untuk Potter

Bompastor mengaku puas dengan perkembangan Potter, meski menilai musim ini kesempatannya jauh lebih banyak dibandingkan musim lalu. Ia menyoroti konsistensi Potter untuk usianya yang masih muda. Pelatih asal Prancis itu juga menyebut laga melawan Arsenal sebagai ujian sesungguhnya, karena publik ingin melihat apakah Potter mampu mengulang dan mempertahankan performanya di laga besar. Menurut Bompastor, Potter sudah membuktikan bahwa ia mampu melakukannya.

Ellen White, yang kini bekerja sebagai komentator dan podcaster, menilai Potter merebut peluangnya dengan cara yang mengesankan. Ia mengingat bahwa Chelsea sudah menghabiskan banyak uang untuk mendatangkan pemain ke tim itu, tetapi Potter tetap mampu mengambil tempatnya. White juga menyoroti aspek fisik Potter, proses belajarnya dari Walsh dan pemain di sekitarnya, serta momen ketika tiga pemain Arsenal mengelilinginya dan ia tetap tenang menyontekkan bola ke arah Ellie Carpenter. Bagi White, kemampuan seperti itu istimewa untuk pemain seusianya.

Lucy Bronze menambahkan bahwa Potter sudah terlihat luar biasa sejak musim lalu. Ia mengaku masih mengingat musim pertamanya di Chelsea dan melihat bagaimana Potter berlatih pada level tersebut. Dengan figur seperti Walsh sebagai panutan, menurut Bronze, gaya bermain Potter dan Walsh terlihat semakin mirip di setiap pertandingan. Ia menyebut bahwa jika Inggris benar-benar punya Keira Walsh berikutnya, maka posisi timnas berada dalam kondisi yang sangat menguntungkan.

Bisakah Inggris Memiliki Keira Walsh Baru?

Potter kini mengisi posisi nomor enam di Chelsea, memberi perlindungan defensif bagi Walsh, dan terbukti mampu membangun serangan dari bawah tekanan. Karakter permainannya memang mirip dengan Walsh, sosok yang menjadi pilar Inggris sejak debutnya pada 2017 dan telah mengumpulkan lebih dari 100 caps bersama pasukan Wiegman. Kesamaan inilah yang membuat banyak pihak menilai Potter sebagai kandidat penerus yang paling logis.

Salah satu pertanyaan besar yang selama ini menggelayuti lini tengah Inggris adalah siapa yang bisa mengisi posisi Walsh ketika gelandang berusia 29 tahun itu nantinya tidak lagi memperkuat timnas. Kemunculan Potter memberi jawaban awal atas pertanyaan tersebut. White mengakui bahwa Inggris sudah lama mencari sosok seperti itu, dan ia menilai posisi nomor enam adalah salah satu posisi tersulit untuk dimainkan. Ia menambahkan bahwa Walsh telah menjalankannya dengan sangat baik selama bertahun-tahun dan justru semakin membaik musim ini, dengan Potter yang mungkin mendorongnya untuk terus meningkat.

Bagi White, memiliki Potter di dalam skuad Inggris dan memberinya pengalaman di tim senior akan menjadi hal yang luar biasa. Ia menilai Potter terlihat sangat istimewa. Bahkan Bompastor sempat bercanda bahwa ia berharap Potter bisa menjadi orang Prancis, sembari menegaskan bahwa sang pemain sudah siap tampil di panggung internasional.

Kualifikasi Piala Dunia Wanita dan Peluang Berikutnya

Pengumuman skuad ini datang pada momen yang penting bagi Lionesses. Inggris sedang berupaya mengamankan tiket ke Piala Dunia Wanita di Brasil dengan menjalani dua pertandingan melawan Yunani pada Oktober. Dua laga tersebut menjadi kesempatan bagi Wiegman untuk menguji kedalaman skuad sekaligus memberi menit bermain kepada pemain-pemain baru.

Jika namanya benar-benar dipanggil, Potter akan masuk ke lingkungan yang penuh pemain berpengalaman dan bisa mempercepat proses adaptasinya. Ia akan belajar langsung dari Walsh, pemain yang selama ini menjadi tolok ukur di posisinya. Kehadirannya juga menambah persaingan sehat di lini tengah, sesuatu yang biasanya berdampak positif bagi kualitas tim secara keseluruhan.

Yang menarik, pemanggilan Potter bukan hanya soal kebutuhan jangka pendek untuk laga melawan Yunani. Ini bisa menjadi langkah awal regenerasi lini tengah Inggris menjelang turnamen besar berikutnya. Jika Potter mampu menjaga konsistensinya di Chelsea, bukan tidak mungkin ia menjadi nama tetap di skuad Lionesses dalam beberapa tahun ke depan.

Kesimpulan

Perjalanan Lexi Potter dari akademi Chelsea, masa peminjaman di Crystal Palace, hingga menjadi starter di lini tengah The Blues menunjukkan perkembangan yang cepat dan terarah. Statistiknya di WSL, mulai dari akurasi umpan 93 persen, 21 recoveries, hingga peran pentingnya dalam clean sheet Chelsea, memperkuat alasan mengapa namanya kini ramai dibicarakan. Pujian dari Bompastor, Ellen White, dan Lucy Bronze menegaskan bahwa Potter bukan sekadar fenomena sesaat.

Pertanyaannya kini apakah Sarina Wiegman akan memasukkan namanya ke dalam skuad Inggris untuk pertama kalinya. Jika itu terjadi, Potter akan mendapat panggung untuk membuktikan bahwa ia memang layak disebut sebagai calon bintang berikutnya bagi Lionesses, sekaligus kandidat penerus Keira Walsh di posisi nomor enam.