Rooney Tolak Gelar Man United dari Sanksi Manchester City

Legenda Manchester United, Wayne Rooney, menegaskan bahwa mantan klubnya tidak layak menerima gelar Premier League secara retroaktif seandainya Manchester City dicopot gelar juaranya sebagai bagian dari sanksi Manchester City atas pelanggaran aturan finansial. Baginya, medali juara tidak seharusnya berpindah tangan hanya karena pesaing dijatuhi hukuman, bukan karena timnya sendiri tampil cukup baik di lapangan.

Pernyataan itu muncul setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 dakwaan yang diajukan Premier League. Sanksi resmi belum diumumkan dan City berencana mengajukan banding, sehingga perdebatan soal siapa yang berhak atas gelar-gelar tersebut kini menyeret nama mantan pemain, pelatih, hingga petinggi liga dari luar Inggris.

Rooney: Man United Tidak Layak Terima Gelar dari Sanksi Manchester City

Rooney merupakan bagian dari skuad Manchester United yang finis sebagai runner-up di belakang City pada musim 2011-2012. Jika City nantinya kehilangan gelar musim tersebut, United secara teori bisa ditetapkan sebagai juara. Meski demikian, pria berusia 40 tahun itu menolak gagasan tersebut dan memilih bersikap konsisten dengan apa yang ia yakini terjadi di lapangan.

Berbicara di podcast Stick to United, Rooney mengaku tidak akan merasa nyaman menerima medali Premier League tambahan. “Saya tidak akan merasa nyaman menerima medali Premier League lagi kalau jujur, karena saya tidak merasa kami layak mendapatkannya. Kami tidak melakukan cukup banyak musim itu untuk memenangi liga,” ujarnya.

Ia juga mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang para pemain City. Menurut Rooney, para pemain bisa saja sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di level manajemen klub, sehingga mereka pun berhak merasa kehilangan sesuatu yang sudah mereka perjuangkan dengan susah payah. “Kalau para pemain itu tidak paham apa yang terjadi di atas mereka, maka kalau hal itu menimpa saya, saya akan benar-benar hancur,” katanya.

Rooney menambahkan bahwa dirinya sudah merasa cukup dengan lima medali juara yang pernah ia raih bersama Manchester United. Ia menilai menerima medali tambahan belasan tahun kemudian karena pesaing terbukti melanggar aturan bukanlah pencapaian yang layak dibanggakan. “Saya tidak mau medali itu hanya tergeletak di sana, 15 tahun kemudian kamu dapat medali karena City curang. Saya tidak akan merasa nyaman,” ucapnya.

Sikap Rooney itu pun ia tegaskan sekali lagi ketika membahas posisi United sebagai runner-up. “Pertanyaannya, apakah saya mau menerima medali itu karena finis kedua? Tidak,” tegasnya. Kendati demikian, ia mengakui bahwa sebagian pemain lain mungkin memiliki pandangan yang berbeda dan bersedia menerima gelar tersebut.

Kronologi Kasus 115 Dakwaan Manchester City

Manchester City didakwa oleh Premier League pada Februari 2023 setelah melalui investigasi yang berlangsung sekitar empat tahun. Dakwaan tersebut mencakup dugaan pelanggaran aturan finansial pada rentang musim 2009-10 hingga 2017-18, serta tuduhan gagal bekerja sama dengan penyelidikan Premier League antara Desember 2018 dan Februari 2023.

Kasus ini kemudian dirujuk ke komisi independen. Sidang tertutup mulai digelar pada September 2024 dan berjalan sekitar 12 pekan. Hingga kini, bentuk sanksi yang akan dijatuhkan belum diumumkan, dan City menyatakan akan mengajukan banding atas putusan tersebut.

Sejak pengambilalihan klub oleh Sheikh Mansour pada 2009, City telah menjuarai Premier League sebanyak delapan kali. Tiga di antara gelar tersebut diraih pada periode yang justru menjadi sorotan dalam dakwaan, sehingga wacana pencabutan gelar menjadi salah satu kemungkinan hukuman yang paling banyak dibicarakan.

Reaksi Sesama Pesain: dari Ferdinand hingga Pulis

Pandangan Rooney berbeda dengan sejumlah mantan rekan setimnya di Manchester United. Rio Ferdinand dan David de Gea sama-sama mengunggah pendapat di media sosial setelah kabar putusan bersalah mencuat pada Jumat, dan keduanya menyarankan agar gelar juara diberikan secara retroaktif kepada United.

Sikap serupa datang dari mantan manajer Stoke City, Tony Pulis. Ia mengaku merasa “dicurangi” setelah timnya dikalahkan City pada final Piala FA 2011, sebuah laga yang menurutnya tidak berjalan di atas fondasi yang setara.

Di sisi lain, sumber yang dihubungi BBC Sport menyebutkan bahwa sejumlah klub peserta Premier League tengah mencari nasihat hukum terkait kemungkinan mengajukan tuntutan kompensasi. Langkah itu menunjukkan bahwa dampak putusan ini tidak berhenti pada sanksi terhadap City, tetapi juga berpotensi merembet ke ranah ganti rugi antarklub.

Rooney Ingin City Terdegradasi ke Kasta Terbawah

Meski menolak menerima gelar secara cuma-cuma, Rooney justru berpendapat bahwa Manchester City harus dihukum seberat mungkin. Ia menilai pencabutan gelar saja tidak cukup memberikan efek jera bagi klub yang terbukti melanggar aturan selama bertahun-tahun.

“Saya rasa kita akan melihat City terdegradasi. Bagaimana caranya saya tidak tahu, tapi saya kira mereka akan terdegradasi,” ujar Rooney. Ia bahkan ingin City ditempatkan di kasta paling bawah yang memungkinkan, lalu dikenai pembatasan belanja pemain selama tiga hingga empat musim berikutnya.

Menurut Rooney, penurunan kasta ke Championship saja tidak akan memberi hukuman yang bertahan lama karena City punya sumber daya untuk langsung kembali ke Premier League. Ia menilai pembatasan ekonomi dan kompetisi di level yang lebih rendah, misalnya League Two, akan jauh lebih sulit dilalui oleh klub sekaliber City.

Ia mencontohkan skenario pengurangan 20 poin selama tiga musim berturut-turut sebagai bentuk hukuman yang bisa membuat para pemain enggan bertahan. “Kalau hanya satu musim di Championship, pemain masih bisa dibujuk untuk bertahan. Saya akan menuntut hukuman sebesar mungkin,” tambahnya.

Pochettino: Kita Hidup di Periode Tipu Daya

Mantan manajer Tottenham dan Chelsea, Mauricio Pochettino, menyatakan bahwa kompetisi Premier League telah melewati masa yang ia sebut sebagai periode tipu daya. Pria berusia 54 tahun itu sempat menangani tiga klub di Premier League selama rentang waktu yang tercakup dalam dakwaan, yakni 15 bulan di Southampton, lima tahun di Tottenham, dan satu musim di Chelsea.

“Apa pun hukumannya, mustahil memutar balik waktu. Kerusakan yang terjadi sudah sangat besar. Banyak klub mengikuti aturan, dan sebagian tidak,” kata Pochettino. Ia menyoroti absennya pengawasan yang ketat ketika klub-klub lain justru harus berhemat demi memenuhi aturan finansial liga.

Pochettino lantas mengenang masa-masa sulitnya di Tottenham, termasuk 18 bulan tanpa bisa merekrut pemain karena klub tengah membangun stadion baru. Menurutnya, Tottenham tetap bersaing di papan atas dan menembus semifinal Liga Champions justru ketika mereka tidak punya ruang gerak di bursa transfer. “Mereka sangat ketat kepada kami, tapi sangat longgar kepada yang lain,” ujarnya.

Sebelumnya, Pochettino juga berpendapat bahwa gelar Premier League musim 2016-17 semestinya jatuh ke tangan Tottenham Hotspur, klub yang finis sebagai runner-up, bila tim juara terbukti melakukan pelanggaran aturan. Ia mengaku aneh dengan perlakuan yang tidak seimbang antara satu klub dan klub lainnya.

Tekanan dari Luar Inggris

Presiden La Liga, Javier Tebas, menyatakan sepakat dengan pandangan Pochettino. Menurutnya, hukuman paling berat yang diatur dalam regulasi Premier League sudah seharusnya dijatuhkan kepada City, meski ia mengaku tidak tahu persis bentuk sanksi tersebut.

“Melihat jumlah tahun yang terlibat, pelanggaran yang berulang, penyangkalan, dan kurangnya kerja sama, sanksi terberat yang diizinkan aturan Premier League itulah yang harus dijatuhkan,” kata Tebas kepada BBC Sport dalam sebuah pertemuan di London yang digelar serikat pemain global, Fifapro. Pria berusia 64 tahun itu mengaku telah menyuarakan kekhawatiran soal perilaku City selama bertahun-tahun.

Tekanan dari otoritas di luar Inggris menunjukkan bahwa kasus ini tidak lagi semata urusan domestik. Reputasi Premier League sebagai salah satu liga paling ketat dalam hal pengawasan finansial pun ikut dipertaruhkan di mata pengamat internasional.

Menanti Putusan Akhir

Sampai kini belum ada kepastian mengenai bentuk hukuman yang akan diterima Manchester City karena proses banding masih terbuka. Dalam pemberitaan terkait, CEO Manchester City disebut tetap bersikap menantang soal dakwaan tersebut, sementara mantan manajer Roberto Mancini menegaskan bahwa persoalan pelanggaran aturan klub bukan urusannya.

Kendati begitu, satu hal yang cukup jelas dari perdebatan ini adalah bahwa dampaknya tidak akan berhenti pada City sendiri. Klub-klub yang pernah bersaing ketat dengan mereka, termasuk Manchester United dan Tottenham, kini dihadapkan pada pertanyaan sulit: apakah gelar yang diperoleh lewat proses panjang di lapangan seharusnya berpindah tangan karena pelanggaran yang baru terbukti bertahun-tahun kemudian.

Rooney sendiri sudah memberi jawaban yang tegas dan konsisten. Ia tidak menginginkan gelar yang ia rasa tidak diperjuangkan oleh timnya sendiri, sekaligus menuntut City dihukum seberat mungkin agar aturan liga benar-benar bermakna. Bagi banyak pihak, sikap itu justru menjadi pengingat bahwa nilai sebuah gelar tidak ditentukan oleh keputusan administratif, melainkan oleh apa yang benar-benar terjadi di lapangan.