Lewis Koumas: Bintang Muda Liverpool di Nations League

Lewis Koumas nyaris tidak membuang waktu untuk memperlihatkan kualitasnya. Baru kurang dari sepekan mengikuti pramusim, pemain berusia 21 tahun itu sudah menunjukkan kepada pelatih anyar Liverpool, Andoni Iraola, apa yang bisa ia tawarkan. Belum genap sebulan musim baru bergulir, ia pun membuktikan bahwa dirinya memang layak masuk ke dalam rencana skuad utama The Reds.

Kini, dalam dua pekan ke depan, prospek menyerang yang mulai menjadi favorit di Anfield tersebut berupaya membuktikan dugaan yang sudah lama beredar di kalangan sepak bola Wales, bahwa ia juga mampu memberi dampak besar di level internasional. Pelatih Wales, Craig Bellamy, termasuk pihak yang yakin bahwa Lewis Koumas akan menjadi pemain penting bagi timnya selama bertahun-tahun ke depan. Legenda Wales sekaligus Liverpool, Ian Rush, juga termasuk di antara mereka yang terkesan dengan potensi pemain muda ini. Kesempatan itu datang lewat ajang Nations League, di mana Wales akan berhadapan dengan Portugal, Denmark, dan Norwegia, sebuah panggung yang mempertemukannya dengan nama-nama seperti Cristiano Ronaldo dan Erling Haaland.

Penampilan Lewis Koumas yang Mencuri Perhatian

Kepercayaan Iraola kepada Koumas bukan tanpa alasan. Saat Liverpool menjalani tur pramusim ke Amerika Serikat, pelatih asal Spanyol itu langsung menghentikan anggapan bahwa pemain muda tersebut akan kembali dipinjamkan. Ia justru memberi Koumas kesempatan tampil di Premier League, lalu di Liga Champions, sebelum mencatatkan penampilan penuh energi yang membuatnya dinobatkan sebagai pemain terbaik dalam laga melawan Tottenham.

Gaya bermain Koumas di laga itu seolah menjadi cerminan tuntutan yang diinginkan pelatih baru Liverpool. Ia tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga menunjukkan tekad pantang menyerah dalam menekan lawan. Menurut Iraola, energi yang ditunjukkan Koumas menular ke seluruh skuad, termasuk para pemain yang dibeli dengan harga lebih dari 100 juta poundsterling.

Theo Squires, penulis sepak bola senior di Liverpool Echo, menilai Koumas telah berkembang pesat sejak debutnya. Dulu, ia hanya seorang anak yang menarik perhatian di level akademi sebagai penyerang serbaguna dengan insting gol yang tajam. Namun kini, secara fisik ia tampak hampir tak dikenali, dan mampu memimpin lini depan melawan Tottenham tanpa canggung, menjadi gangguan terus-menerus bagi lawan lewat kecepatan serta tekadnya yang tak pernah padam.

Meniti Jejak Sang Ayah, Jason Koumas

Nama Koumas sendiri sudah lebih dulu membawa gema di sepak bola Wales berkat kiprah sang ayah, Jason Koumas, yang merupakan mantan pemain internasional Wales. Nama belakang itu saja sudah cukup membangkitkan harapan, mengingat bakat besar yang pernah ditunjukkan Jason pada masa jayanya. Tak heran bila kehadiran Lewis pun langsung menarik perhatian banyak pengamat.

Danny Gabbidon, yang pernah bermain bersama Jason di timnas Wales, mengenangnya sebagai pesepak bola yang sangat berbakat. Menurut Gabbidon, Jason bisa melakukan hampir segalanya, secara teknis luar biasa, mampu menjaga bola, mengumpan dengan baik, dan mencetak gol-gol fantastis. Jason mengoleksi 34 caps dan mencetak 10 gol untuk Wales, serta pernah membela klub-klub seperti Tranmere Rovers, West Bromwich Albion, Cardiff City, dan Wigan Athletic.

Meski demikian, Gabbidon mengakui bahwa Jason kadang terlihat malas dan terlalu santai. Banyak penggemar klub-klub yang pernah dibelanya mungkin masih tersenyum mengingat aksi-aksinya, namun juga menyimpan rasa penasaran akan apa yang bisa dicapai sang pemain seandainya kegigihannya sebesar bakatnya. Di sinilah Lewis tampak memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki ayahnya.

Gabbidon menyebut bahwa Jason tidak akan terlihat berlari ke sana ke mari seperti yang dilakukan Lewis saat melawan Tottenham. Ia mengaku mengamati Lewis dengan saksama karena meyakini posisi terbaik pemain muda itu adalah sebagai penyerang. Menurutnya, kesempatan bermain di klub sebesar Liverpool sudah cukup menunjukkan bagaimana pandangan pelatih terhadapnya, dan yang tak kalah penting, bukan hanya soal bakat, tetapi juga nafsu untuk bekerja keras.

Perjalanan dari Akademi hingga Tim Utama Liverpool

Koumas dikenal sebagai sosok yang disukai pelatih. Barry Lewtas, mantan pelatih kepala Liverpool U-21, menyebutnya sebagai “mimpi seorang pelatih” karena etos kerja, keinginan untuk belajar, dan cara ia mengaplikasikan diri selalu tampak jelas. Sifat itulah yang membuatnya dipercaya sejak masih berada di level akademi.

Pemain kelahiran Wirral ini telah menjadi pendukung Liverpool sejak lahir dan bergabung dengan The Reds sejak usia sekolah dasar, mengikuti jejak sang ayah yang pernah menjadi rekan setim Steven Gerrard dan Michael Owen saat berusia sembilan tahun. Bila Jason menyeberang ke Tranmere tanpa menembus tim utama Liverpool, Lewis justru berkembang bersama raksasa Premier League itu, terutama setelah ia didorong dari lini tengah ke posisi penyerang pada usia 16 tahun.

Menurut Lewtas, perubahan posisi itu menjadi bagian penting dari perkembangan Koumas karena memberinya pengalaman bermain lebih dalam dan berurusan dengan aspek teknis. Seiring keterampilannya berkembang, ia pun menemukan posisi yang paling cocok untuknya. Pengaruh pelatih Liverpool saat itu, Jurgen Klopp, turut berperan; kombinasi kemampuan menyelesaikan peluang dan sikap agresif dalam menekan membuat jalannya menuju tim utama semakin jelas.

Pada 2024, Klopp memberi Koumas debut di tim senior. Ia mencetak gol di Piala FA melawan Southampton pada Februari 2024, lalu menjadi pemain pengganti yang tidak dipakai ketika Liverpool mengalahkan Chelsea untuk merebut trofi Piala Liga di Wembley. Setelah itu, ia menunggu lebih dari 900 hari sebelum kembali tampil untuk tim utama, dengan tiga masa peminjaman di Championship di antara rentang waktu tersebut.

Di Stoke City, Koumas bermain di bawah tiga pelatih berbeda dalam satu musim, tetapi dipercaya oleh ketiganya. Pengalaman itu disebut membantunya meningkatkan kepercayaan diri. Ia kemudian tampil 25 kali untuk Birmingham City pada paruh pertama musim lalu, meski hanya tujuh kali menjadi starter di liga, sebelum pindah ke Hull City dan berperan penting dalam promosi The Tigers melalui babak play-off.

Dampak bagi Liverpool dan Timnas Wales

Kembalinya Koumas ke Liverpool pada musim panas lalu membawa kepercayaan diri yang baru. Semua orang menduga ia akan kembali dipinjamkan, tetapi Iraola menghentikan anggapan itu hanya sepekan setelah tur pramusim di Amerika Serikat dimulai. Keputusan tersebut terbukti dengan kesempatan bermain di Premier League dan Liga Champions, yang menjadi fondasi awal bagi perkembangan pesatnya.

Bagi Liverpool, kehadiran Koumas memberi opsi tambahan di lini serang dengan karakter yang sesuai dengan keinginan Iraola. Energi dan intensitasnya menjadi contoh bagi pemain lain, sebuah hal yang jarang dimiliki pemain muda yang baru menembus tim utama. Kematangannya secara fisik dan mental disebut tak lagi seperti pemain yang baru menjalani debut.

Di sisi timnas Wales, Koumas menjadi salah satu aset yang paling dinantikan. Pelatih Wales U-21, Matty Jones, pernah mengungkapkan bahwa ia rutin menggelar pertemuan dengan Koumas untuk memastikan pemain kelahiran Inggris itu tidak berpindah membela Timnas Inggris. Dalam salah satu pertemuan, Koumas dikabarkan berkata kepada Jones bahwa ia akan memenangkan pertandingan untuk tim.

Keyakinan diri itu ia buktikan lewat gol indah hasil tendangan melengkung pada debutnya bersama tim U-21 Wales pada 2025. Sebelum laga persahabatan tim senior pada Juni lalu, Koumas menyatakan bahwa penggemar Wales belum melihat “apa pun” darinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia hanya tampil sebagai pemain pelapis, sehingga perlu bekerja lebih keras untuk mendapat kepercayaan dari pelatih. Ia lantas mencetak gol internasional pertamanya ke gawang Ghana.

Peluang Lewis Koumas di Nations League

Bellamy mengakui bahwa Koumas selalu hadir di setiap skuad yang ia umumkan, tetapi ia merasakan ada perubahan besar pada musim panas lalu. Menurutnya, saat masuk melawan Ghana, Koumas sepenuhnya mengubah jalannya pertandingan, dan kemampuan seperti itulah yang dimilikinya. Bellamy menilai Koumas kini mulai menemukan jati dirinya dan terus berkembang, sesuatu yang harus terus berlanjut bila ia ingin menjadi pemain top yang diharapkan.

Wales sendiri akan memulai perjalanan menantang di Nations League Grup A4 dengan menghadapi Portugal di Lisbon, Kamis, 24 September pukul 19.45 waktu setempat, di Estádio José Alvalade. Laga itu menjadi ujian kompetitif pertama bagi Koumas bersama tim senior, sekaligus kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia mampu bersaing dengan pemain sekaliber Ronaldo dan Haaland.

Baik pelatih di level klub maupun timnas sepakat bahwa masih ada banyak aspek yang perlu diasah Koumas. Namun, mereka juga yakin masih banyak ruang untuknya berkembang. Wales berharap pemainnya itu bisa membuat langkah besar tambahan selama kampanye Nations League yang menuntut.

Lewtas menegaskan bahwa Koumas sadar masih ada batas kemampuan yang bisa ia capai. Namun, mengingat besarnya semangat pemain muda itu, ia tidak akan khawatir, justru menantikannya. Dengan kata lain, ia melihat tantangan itu sebagai peluang, bukan beban.

Perjalanan Lewis Koumas menunjukkan bagaimana bakat, kerja keras, dan kepercayaan dari pelatih bisa berpadu menjadi lonjakan karier yang cepat. Dalam hitungan bulan, ia berubah dari pemain muda yang belum banyak dikenal menjadi andalan baru Liverpool sekaligus harapan besar timnas Wales. Lonjakan seperti ini cukup jarang terjadi bagi pemain seusianya.

Kini tantangan sesungguhnya menanti. Nations League bersama Wales akan menjadi panggung untuk membuktikan bahwa kemunculannya bukan sekadar euforia sesaat, melainkan awal dari karier panjang yang ia sendiri telah yakini sejak lama. Jika ia mampu menjawabnya, bukan tidak mungkin nama Lewis Koumas akan terus disebut-sebut di level tertinggi selama bertahun-tahun ke depan.