Soccer Football - Scottish Premiership - Celtic v Heart of Midlothian - Celtic Park, Glasgow, Scotland, Britain - May 16, 2026 Celtic's Callum McGregor celebrates lifting the Scottish Premiership trophy with teammates Action Images via Reuters/Andrew Boyers

Kesalahan Seleksi Pemain Celtic Saat Dipermalukan Rangers

Kesalahan seleksi pemain Celtic menjadi topik panas setelah tim asuhan Martin O’Neill takluk 3-0 dari Rangers pada perempat final Premier Sports Cup di Ibrox. Kekalahan tersebut membuat sejumlah keputusan starting XI dipertanyakan, mulai dari sosok yang dipasang di lini depan hingga siapa yang berdiri di bawah mistar gawang. Sorotan paling tajam mengarah pada nama Sebastian Tounekti, yang kembali dipercaya tampil sejak menit awal.

Laga bertajuk Old Firm ini memang selalu punya bobot lebih dari sekadar pertandingan biasa, karena menyangkut gengsi dua raksasa Skotlandia. Kondisi Celtic kian rumit karena Yang Hyun-jun sedang memperkuat negaranya, sehingga opsi di sektor sayap menjadi terbatas. Dari situ, pilihan O’Neill justru dinilai tidak sejalan dengan performa pemain di lapangan, dan kritik dari penggemar pun mengalir deras.

Tounekti Jadi Sorotan Utama di Ibrox

Nama Tounekti muncul di daftar susunan pemain dan langsung menuai reaksi keras dari pendukung Celtic. Winger asal Tunisia itu memang baru menjalani start keduanya sepanjang musim ini, yakni ketika Celtic menang 1-0 atas St Johnstone pada laga tengah pekan. Sayangnya, penampilan babak pertama di Perth kala itu dinilai jauh dari standar oleh mantan kiper Celtic, Pat Bonner, yang menyebutnya “buruk sekali”.

Data pertandingan di McDiarmid Park kian memperkuat kritik tersebut. Tounekti kehilangan penguasaan bola hingga 23 kali melawan tim asuhan Simo Valakari, sebuah angka yang hanya dilampaui oleh kiper lawan, Toby Steward. Catatan itu menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar kurang beruntung, melainkan kesulitan nyata dalam menjaga bola dan mengambil keputusan.

Di Ibrox, persoalan yang sama terulang. Tounekti berhadapan langsung dengan bek kanan Rangers, Dujon Sterling, dan nyaris tidak mampu menciptakan celah berarti. O’Neill akhirnya menariknya keluar saat jeda dan memasukkan Haissem Hassan, pemain internasional Mesir yang didatangkan dari Real Oviedo pada bursa musim panas dengan nilai transfer dilaporkan mencapai 9 juta poundsterling.

Masuknya Hassan ternyata tidak mengubah arah pertandingan. Celtic yang sudah tertinggal satu gol di babak pertama justru menutup laga dengan kekalahan 3-0, mempertegas bahwa persoalan tim tidak selesai hanya dengan satu pergantian pemain.

Dilema Lini Depan: Hogh, Duran, dan Rotasi yang Tak Berjalan

Sebelum laga dimulai, O’Neill sebenarnya menghadapi teka-teki tersendiri di lini serang. Camilo Duran tampil menonjol saat dipercaya beroperasi di tengah, tepat ketika Kasper Hogh, rekrutan mahal musim panas lainnya, masih menjalani pemulihan cedera. Situasi itu memberi O’Neill dua opsi yang sama-sama masuk akal, namun ia memilih mengembalikan Hogh ke posisi ujung tombak begitu sang pemain kembali fit.

Hogh langsung menjadi starter di kandang St Johnstone, lalu kembali memimpin serangan di Ibrox, sementara Duran digeser ke sisi sayap. Pilihan ini dinilai tidak maksimal karena keduanya sama-sama kesulitan memberi dampak. Mantan pemain Rangers, Andy Halliday, bahkan melontarkan penilaian pedas terhadap performa Hogh.

“Kasper Hogh tampil naik-turun sejauh ini untuk Celtic, tetapi hari ini ia benar-benar membeku,” kata Halliday. “Saat menguasai bola maupun tanpa bola, tidak ada keinginan, tidak ada kemauan untuk turun membantu pertahanan timnya.” Kritik itu menggambarkan betapa lini depan Celtic kehilangan daya tekan sepanjang laga.

Pada menit ke-64, Hogh ditarik keluar dan Duran dikembalikan ke posisi tengah. Namun keputusan itu pun tidak bertahan lama, karena 13 menit berselang Duran justru digantikan oleh Shim Mheuka. Rangkaian rotasi ini membuat lini serang Celtic terlihat tidak menemukan bentuk permainan yang jelas hingga pertandingan usai.

Perombakan Lini Belakang dan Pilihan Kiper yang Dipertanyakan

Keputusan mengejutkan lainnya datang dari lini pertahanan. O’Neill memilih memecah duet bek tengah Cameron Carter-Vickers dan Auston Trusty, yang sebelumnya selalu menjadi pilihan pada tujuh dari sembilan laga Celtic musim ini. Kieran Tierney dikembalikan ke posisi bek kiri, sementara Liam Scales ditarik ke tengah untuk berpasangan dengan Carter-Vickers.

Di posisi kiper, O’Neill memberi kepercayaan kepada Sam Johnstone, pemain pinjaman dari Wolverhampton yang juga tampil saat melawan St Johnstone. Keputusan itu terbilang mengejutkan karena Viljami Sinisalo telah mencatatkan empat clean sheet dari delapan penampilan sepanjang musim. Pergantian ini otomatis menjadi salah satu bagian dari kesalahan seleksi pemain Celtic yang paling banyak dibahas setelah laga.

Meski sempat melakukan beberapa penyelamatan tajam di Perth, Johnstone tampak belum menemukan ritme terbaiknya di Ibrox. Hal itu cukup wajar mengingat laga tersebut baru menjadi penampilan kompetitif keduanya sejak Maret. Kekurangannya sempat berbuah peluang emas bagi Kevin Kelsy, striker Rangers, ketika bola sapuannya langsung mengarah ke lawan di awal pertandingan.

Peluang berbahaya lain juga lahir dari situasi serupa. Kim Min-Su hampir mencetak gol setelah Johnstone menepis sebuah umpan silang ke jalur yang salah, sebelum Scales menyapu bola tepat di garis gawang. Sepanjang sisa pertandingan, pendukung Rangers terus mengganggu Johnstone setiap kali ia menguasai bola, menambah tekanan pada pemain berusia 33 tahun itu.

Apa Arti Kekalahan Ini bagi O’Neill dan Celtic

O’Neill sendiri tidak menampik bahwa seleksi pemain akan menjadi bahan evaluasi. “Jika Anda kalah dalam sebuah pertandingan, Anda selalu memikirkan soal seleksi,” ujarnya usai laga. “Saya akan memikirkan peran saya sendiri terlebih dahulu, lalu kita lihat. Saya ingin para pemain merasakan atmosfer ini, dan mereka tentu merasakannya hari ini.”

Pernyataan itu menyiratkan bahwa pelatih asal Irlandia Utara tersebut menyadari ada keputusan yang perlu ditinjau ulang. Tekanan pun kian besar karena kekalahan di laga Old Firm selalu berdampak panjang, baik pada posisi pelatih maupun kepercayaan suporter terhadap arah tim. Evaluasi menyeluruh tampaknya tak terhindarkan menjelang laga-laga berikutnya.

Dampaknya juga menyentuh para pemain secara langsung. Tounekti, Hogh, dan Johnstone kini berada di bawah sorotan tajam, sementara pemain seperti Sinisalo dan Hassan justru mendapat dukungan untuk kembali masuk starting XI. Persaingan posisi di skuad Celtic berpotensi berubah drastis, terutama jika performa di laga-laga berikutnya tidak segera membaik.

Reaksi Suporter dan Gambaran Masalah yang Lebih Besar

Kekecewaan pendukung Celtic tercermin jelas dalam berbagai komentar setelah pertandingan. Gordy menilai O’Neill dan Shaun Maloney salah total dalam menentukan seleksi dan formasi, seraya menyebut Colby Donovan, Mika Baur, dan khususnya Tounekti belum memenuhi standar bermain untuk Celtic. Moe menyoroti posisi kiper dan menegaskan bahwa Sinisalo seharusnya tampil karena sudah punya pengalaman.

Phillip menyebutnya sebagai performa terburuk dalam lima tahun dan menilai kekacauan sudah terlihat sejak awal, dimulai dari keputusan mencadangkan Hassan. Ia juga menyoroti performa Johnstone di gawang dan menilai Celtic butuh tambahan pemain di lini tengah pada Januari. Willie menilai seleksi pemain sejak awal sudah mengejutkan, sedangkan Biggar menilai O’Neill salah mengambil dua keputusan besar sekaligus.

Kritik-kritik itu menunjukkan bahwa persoalan Celtic bukan hanya soal satu nama yang dipasang sebagai starter. Ada kekhawatiran lebih luas mengenai kedalaman skuad, kesiapan fisik pemain, serta cara tim menghadapi pertandingan bertekanan tinggi. Kekalahan di Ibrox menjadi cermin bahwa rotasi yang dilakukan belum mampu menjaga keseimbangan antara lini belakang, tengah, dan depan.

Dalam konteks rivalitas Old Firm, hasil seperti ini selalu punya efek berganda. Selain kehilangan tempat di perempat final Premier Sports Cup, Celtic juga harus menanggung beban psikologis menjelang pertemuan berikutnya dengan Rangers. Pertanyaan soal siapa yang layak menjadi starter kini menjadi agenda utama di antara para penggemar maupun staf pelatih.

Kesimpulan

Kekalahan 3-0 dari Rangers membuat hampir setiap keputusan Martin O’Neill menjadi bahan perdebatan, mulai dari memilih Tounekti sebagai starter, memaksa Hogh memimpin lini depan, hingga menurunkan Johnstone alih-alih Sinisalo. Semua pilihan itu saling berkaitan dan berujung pada performa tim yang jauh dari harapan. Dengan kata lain, kesalahan seleksi pemain Celtic kali ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari rangkaian keputusan yang kurang tepat sejak awal.

O’Neill masih punya kesempatan untuk memperbaiki keadaan, tetapi ia perlu bergerak cepat sebelum tekanan semakin besar. Menata ulang komposisi starting XI, memulihkan ketajaman lini depan, dan menentukan kiper utama menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda. Laga-laga berikutnya akan menjadi ujian nyata apakah pelajaran dari Ibrox benar-benar dipahami oleh staf pelatih maupun para pemain.