Krisis Aston Villa kian dalam setelah mereka menyerah 2-1 kepada Nottingham Forest di Villa Park. Bek Tyrone Mings sampai terkulai di rumput begitu peluit panjang berbunyi, sebuah gambaran jelas tentang betapa berat beban yang kini ditanggung skuad asuhan Unai Emery. Kekalahan itu menjadi yang ketiga bagi Villa hanya dalam empat pertandingan pembuka musim ini.
Persoalannya bukan sekadar hasil akhir. Emery baru saja melewati musim panas yang sibuk untuk merombak skuad setelah sejumlah pemain kunci hengkang, tetapi perubahan itu belum membuahkan perbaikan di lapangan. Tekanan pun semakin besar karena Aston Villa berpotensi berada di dasar klasemen apabila Coventry berhasil mengalahkan Brighton pada Minggu nanti.
Kekalahan 2-1 di Villa Park: Fakta Utama
Ada satu hal positif yang bisa dipetik tuan rumah: mereka akhirnya mencetak gol di Premier League setelah 372 menit berlalu tanpa gol sama sekali. Gol itu lahir dari sundulan Alysson yang memanfaatkan umpan silang John McGinn, sekaligus menjadi gol pertamanya di sepak bola Inggris. Momen tersebut sempat membangkitkan harapan bahwa jalannya pertandingan bisa berbalik.
Harapan itu tidak bertahan lama. Igor Jesus mencetak gol penentu dua menit sebelum laga usai, mendahului Aaron Wan-Bissaka untuk memastikan kemenangan pertama Nottingham Forest di Villa Park sejak 1994. Hasil ini juga terasa istimewa bagi pelatih Forest, Oliver Glasner, yang kini belum pernah kalah dalam delapan pertemuan melawan Emery.
Statistik menegaskan bahwa Forest memang layak membawa pulang tiga poin. Tim tamu melepaskan 22 tembakan dan mencatatkan 32 sentuhan di kotak penalti Villa, sementara Liam Delap bahkan sempat mencetak gol yang kemudian dianulir. Di sisi lain, Villa nyaris menambah gol hanya lewat sebuah kemelut konyol yang gagal diselesaikan Victor Lindelof setelah Matz Sels, Murillo, dan tiang gawang menghalau bola.
Kronologi Laga: Gol Cepat Delap dan Rotasi Emery
Liam Delap membuka keunggulan Forest hanya 45 detik setelah babak kedua dimulai, sebuah pukulan telak bagi tuan rumah yang baru saja masuk ruang ganti dengan misi memperbaiki permainan. Gol cepat itu mengubah tempo pertandingan dan memaksa Villa mengejar dari belakang, meski akhirnya mereka sempat menyamakan kedudukan lewat Alysson. Hingga akhir laga, Delap tetap menjadi sumber masalah terbesar bagi lini belakang Villa yang kewalahan menghadapinya.
Di sisi pergantian pemain, Emery mengambil keputusan tegas dengan menarik keluar Nicolas Jackson pada jeda pertandingan. Alasannya bukan semata soal performa: Emery khawatir penyerang asal Senegal itu bakal diusir wasit setelah menerima kartu kuning lebih awal. Posisinya digantikan Tammy Abraham, pemain yang justru ingin dijual Emery pada musim panas lalu.
Emery juga memasukkan sejumlah nama baru pada babak kedua, termasuk Johan Manzambi dan Ibrahim Mbaye yang menjalani debut dengan nilai gabungan mencapai £98 juta. Sayangnya, keduanya belum mampu mengubah jalannya pertandingan. Alejandro Garnacho, yang berstatus pemain pinjaman dari Chelsea, kembali hanya duduk di bangku cadangan dan belum mampu meyakinkan Emery untuk memberinya waktu bermain.
Protes Emery soal Kartu Merah McAtee
Situasi Villa makin sulit karena mereka harus menyelesaikan laga dengan 10 pemain setelah bek sayap Ian Maatsen cedera dan tak bisa melanjutkan pertandingan. Emery sudah menggunakan seluruh jatah pergantian pemain, sehingga timnya tidak punya pilihan lain selain bermain dengan satu pemain lebih sedikit. Dalam kondisi itu, Forest semakin leluasa menciptakan peluang di menit-menit akhir.
Emery menilai James McAtee seharusnya diusir dari lapangan karena tekelnya menyebabkan Maatsen cedera. Menurutnya, insiden itu jelas merupakan pelanggaran dari belakang dan seharusnya berbuah kartu merah setelah ditinjau lewat VAR. “Setelah menontonnya di TV, saya pikir VAR seharusnya memanggil wasit karena itu tekel yang jelas dari belakang pemain dan bagi saya itu seharusnya kartu merah,” ujarnya. Ia juga menyinggung laga sebelumnya di Brighton, ketika Joao Gomes menerima dua kartu kuning dan keputusan itu diterima oleh timnya.
Meski begitu, Emery menegaskan keputusan wasit bukan alasan atas kekalahan timnya. Ia mengakui bahwa Nottingham Forest memang layak menang dan menilai penampilan anak asuhnya di babak kedua jauh dari memuaskan. “Itu bukan alasan bagaimana kami bermain di babak kedua. Kami bermain sangat buruk, dan ini adalah pekerjaan kami serta tanggung jawab saya,” katanya.
Dampak bagi Aston Villa: Krisis yang Mengancam Dasar Klasemen
Konsekuensi dari kekalahan ini sangat konkret. Jika Coventry menaklukkan Brighton pada Minggu, Aston Villa akan menempati posisi terbawah klasemen, sebuah situasi yang tentu tidak pernah dibayangkan setelah musim lalu berjalan begitu gemilang. Ini juga menjadi kali keempat Villa memulai musim di kompetisi teratas tanpa meraih kemenangan di empat laga pembuka, setelah sebelumnya terjadi pada 1992-93, 1997-98, dan 2025-26.
Ironi terasa makin dalam karena musim lalu justru berakhir dengan pencapaian tertinggi: finis keempat di Premier League sekaligus gelar Liga Europa yang bersejarah. Perayaan pada Mei lalu kini terasa begitu jauh, seiring performa tim yang terus menurun di awal musim ini. Perombakan skuad yang dilakukan Emery belum berbuah hasil, sementara hasil di lapangan terus menekan posisinya sebagai pelatih.
Villa Park Tak Lagi Jadi Benteng
Kekalahan dari Nottingham Forest memperpanjang tren buruk di kandang sendiri. Sebelum klub lamanya, Crystal Palace, menang 3-0 di Villa Park pada Agustus lalu, Villa tidak pernah kalah di kandang dalam laga liga selama 12 bulan. Sejak saat itu, Villa Park berubah dari benteng yang nyaris tak tertembus menjadi tempat yang rawan bagi tuan rumah, termasuk ketika Glasner kembali menang 2-1 bersama Palace di ajang Piala Carabao.
Catatan musim lalu juga menunjukkan kerapuhan serupa. Villa kalah dalam empat dari 15 laga kandang terakhir di liga dan beberapa kali harus bergantung pada gol-gol telat untuk menyelamatkan satu poin dari Leeds serta mengalahkan Brighton dan Sunderland. Kekalahan 3-1 dari Newcastle di Piala FA makin menegaskan masalah tersebut, dan musim ini diawali dengan kekalahan 1-0 di kandang dari juara bertahan Arsenal sebelum tumbang di tangan Forest.
Ada sejumlah faktor yang bisa menjelaskan penurunan ini. Selain skuad yang baru terbentuk setelah beberapa pemain penting pergi, proyek pembangunan ulang North Stand membuat kapasitas stadion berkurang dan satu sisi tribun kosong tanpa penonton. Meski demikian, penurunan performa di kandang tetap menjadi sinyal yang mengkhawatirkan bagi Emery.
Padahal, di akhir musim lalu Villa tampil gemilang di kandang tepat saat paling dibutuhkan. Mereka menghancurkan Forest di semifinal Liga Europa dalam perjalanan menuju gelar, lalu mencetak empat gol ke gawang Liverpool untuk mengamankan tiket Liga Champions. Emery kini dituntut mengembalikan rasa percaya diri yang dulu membuat timnya nyaris tak terkalahkan di hadapan pendukung sendiri.
Lini Belakang Menipis dan Ujian Berat Menanti
Cederanya Maatsen menambah panjang daftar masalah di lini belakang Villa. Ada kekhawatiran cedera pergelangan kaki yang dialaminya bisa membuatnya absen dalam waktu lama, sehingga pemain anyar Matteo Ruggeri kemungkinan besar akan dipanggil lebih cepat dari yang direncanakan Emery. Bek tengah Pau Torres juga harus diganti pada babak pertama, sementara Taylor Harwood-Bellis kembali tidak masuk dalam daftar skuad.
Situasi itu membuat lini belakang Villa makin tipis menjelang jadwal padat yang menanti. Aston Villa akan bertandang ke markas Coventry di ajang Piala Carabao pada Rabu sebelum melakoni laga tandang melawan Tottenham. Bek tengah seharga £30 juta itu diperkirakan mengharapkan kesempatan bermain di CBS Arena.
Dalam beberapa musim terakhir, gol penyeimbang Villa biasanya menjadi awal kebangkitan dan berujung kemenangan. Kali ini tidak ada finis dramatis, dan hal itu membuat Emery semakin bingung mengapa timnya tak mampu mengendalikan pertandingan. Ia mengaku belum menemukan penyebab pasti dari kekacauan yang menimpa skuadnya.
“Saya tidak tahu kenapa. Saya ingin menonton pertandingan ini lagi dan memahami mengapa kami kehilangan bentuk permainan,” ujar Emery. Kalimat itu merangkum posisi sang pelatih, yang selama ini dikenal selalu mampu menghadirkan solusi di Villa, tetapi kini justru tengah mencari jawaban untuk membangkitkan kembali nasib timnya.
