Kuasa dan Kontroversi Gianni Infantino, Presiden FIFA

Gianni Infantino, presiden FIFA, kembali menjadi pusat perhatian di tengah berbagai kontroversi yang membayangi kepemimpinannya. Baru-baru ini, ia mendarat di Cali, Kolombia, dan disambut langsung di landasan pacu oleh presiden Federasi Sepak Bola Kolombia, Ramon Jesurun, seorang sekutu dekatnya. Keduanya tampak tersenyum dalam sesi foto yang diunggah ke akun Instagram federasi tersebut.

Kunjungan itu bukan untuk agenda sepak bola biasa, melainkan untuk menghadiri pelantikan presiden baru Kolombia, Abelardo de la Espriella. Infantino ditemani oleh Alejandro Dominguez, presiden Conmebol, yang memuji catatan kepemimpinannya serta menyebut Piala Dunia 2026 “sangat sukses” sembari menegaskan “kami bersama Gianni”. Momen ini terjadi di tengah badai yang melanda FIFA setelah rencana Fifa Forward Enterprise gagal total dan memicu kemarahan UEFA.

Gaya Hidup Mewah Gianni Infantino di Panggung Dunia

Kehidupan seorang presiden FIFA memang penuh dengan kemewahan yang jarang terlihat di organisasi olahraga lain. Iring-iringan mobil Mercedes hitam yang dikawal polisi kerap terlihat membawa Infantino, termasuk saat mengunjungi kantor pusat FIFA di Rabat, Maroko, awal pekan ini. Di sana, ia mengumpulkan sejumlah anggota dewan manajemen FIFA untuk membahas rencana penjualan 21 persen bisnis komersial dan tiket kepada perusahaan ekuitas swasta.

Infantino juga kerap bepergian dengan jet eksekutif Qatar Airways yang disediakan khusus untuknya. Pesawat itu memungkinkannya terbang hingga tiga kali sehari, bahkan sempat menonton dua pertandingan dalam sehari selama Piala Dunia 2026. Cara tiba seperti itu terlihat presidensial—lebih mirip kepala negara daripada pemimpin badan olahraga.

Dalam perannya, ia diharapkan mengunjungi 211 negara anggota FIFA untuk melihat proyek sepak bola akar rumput yang didanai FIFA. Sebagian dari tugasnya adalah menyatukan sepak bola dunia, yang tidak bisa dicapai dari dalam kantor pusat FIFA di Zurich. Namun, permintaan iring-iringan berkendara level empat—yang biasanya disediakan untuk kepala negara atau Paus—sempat ditolak otoritas lokal di Vancouver sebelum Kongres FIFA pada April lalu. Polisi Selandia Baru juga mengaku menolak permintaan serupa selama Piala Dunia Wanita 2023.

Skandal Fifa Forward Enterprise yang Hampir Menjatuhkan

Fifa Forward Enterprise adalah rencana yang sempat menjadi skandal terbesar selama masa kepemimpinan Gianni Infantino. Rencana ini bertujuan menjual 21 persen saham bisnis komersial dan tiket Piala Dunia kepada perusahaan ekuitas swasta. Yang lebih mengejutkan, calon investor tersebut adalah perusahaan yang terkait dengan saudara laki-laki Jared Kushner, menantu Donald Trump.

UEFA merespons dengan ancaman boikot terhadap turnamen FIFA, dan Federasi Sepak Bola Inggris (FA) menarik dukungannya terhadap Infantino. Ancaman itu akan diuji dalam Piala Dunia U-20 yang dijadwalkan bergulir di Polandia dalam 29 hari. Infantino telah meminta maaf dan menyatakan keinginannya untuk bertahan menghadapi gelombang kritik, tetapi jalan kembali ke situasi normal tidak akan mudah.

Pernyataan FIFA yang dirilis Rabu lalu menunjukkan penyesalan, tetapi juga berisi teguran. Dalam pernyataan itu, FIFA menyatakan tidak akan lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan proses hukumnya. Sikap ini menunjukkan bahwa Infantino tidak akan mundur dengan mudah, terutama setelah mendapat dukungan dari luar Eropa dalam beberapa hari terakhir.

Hubungan Dekat Gianni Infantino dengan Donald Trump

Aliansi antara Infantino dan Trump tampaknya menaikkan statusnya semakin tinggi, tetapi banyak pihak merasa hal ini mengorbankan tanggung jawabnya terhadap sepak bola. Pada Mei 2025, Infantino sedang dalam tur diplomatik ke Timur Tengah bersama Trump dan datang terlambat dua jam untuk Kongres FIFA di Paraguay. UEFA menuduh Infantino mengutamakan “kepentingan politik pribadi” dan melakukan aksi walk-out.

Ada pula Fifa Peace Prize yang diberikan kepada Trump hanya beberapa minggu sebelum AS menginvasi Venezuela untuk menggulingkan presiden Nicolas Maduro dan meluncurkan serangan udara ke Iran. Komite etik FIFA tidak menanggapi keluhan tentang netralitas politik Infantino atas penghargaan tersebut. Pada awal tahun, Infantino juga muncul secara mengejutkan dalam pertemuan perdana Board of Peace milik Trump yang dibentuk untuk mengawasi rekonstruksi Gaza.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) menilai aturan netralitas politiknya tidak dilanggar, tetapi banyak yang menilai Infantino terlalu dekat dengan presiden AS. Insiden kartu merah Folarin Balogun semakin memperkuat persepsi itu. Striker AS tersebut lolos dari hukuman setelah dikeluarkan di Piala Dunia, sebuah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dari komite disiplin FIFA, dengan Trump mengaku telah menelepon Infantino secara pribadi untuk meminta peninjauan kartu merah. Infantino bersikeras bahwa keputusan itu diambil oleh badan independen yang tidak bisa dipengaruhi siapa pun.

Pada akhir pekan terakhir Piala Dunia 2026, Trump dan Infantino tampil bersama di Trump Tower, New York. Presiden AS itu mengatakan telah menelepon presiden FIFA yang “membuat keputusan hebat lainnya”. Puncak dari hubungan dekat ini kemudian berujung pada Fifa Forward Enterprise, proyek yang justru menjadi bumerang bagi Infantino.

Gaji dan Fasilitas Fantastis di Balik Kursi Presiden FIFA

Selain jet pribadi dan iring-iringan mobil mewah, Gianni Infantino menerima gaji yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Gajinya kini tiga kali lipat dari saat pertama kali terpilih pada 2016, dari sekitar 1,3 juta poundsterling menjadi sekitar 4 juta poundsterling per tahun. Jumlah itu terdiri dari gaji pokok 2,2 juta poundsterling ditambah bonus variabel 1,8 juta poundsterling.

Sebagai perbandingan, pendahulunya Sepp Blatter menerima paket 2,6 juta poundsterling pada tahun terakhirnya sebagai presiden FIFA. Infantino juga mendapat tunjangan harian untuk menutupi biaya hidup sebesar 20.500 poundsterling per tahun. Sebagai pemimpin olahraga paling populer di dunia, wajar jika ada gaji yang sepadan, dan Infantino akan berargumen bahwa pendapatan rekor yang ia dorong membuktikan dirinya layak menerima gaji tersebut.

Jarang Bicara ke Media dan Kritik yang Terus Menguat

Pertanyaan independen tentang metode dan keputusan Infantino jarang muncul karena ia tidak sering berbicara kepada media. Dalam empat tahun terakhir, ia hanya mengadakan dua konferensi pers, masing-masing berlangsung satu jam dan digelar sebelum Piala Dunia dimulai. Di luar itu, ia umumnya tampil dalam wawancara produksi FIFA yang dirilis melalui saluran resmi.

Sebelum Piala Dunia 2026, Infantino mencoba mengantisipasi pertanyaan tentang harga tiket yang tinggi dan visa pendukung. Namun, dalam konferensi pers sebelum Piala Dunia, jawabannya tentang wasit asal Somalia, Omar Artan, yang ditolak masuk AS di Bandara Miami justru menuai kekhawatiran. Ia hanya berkata “just, you know, chill, relax” atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih “santai saja”, sebuah respons yang dinilai tidak sensitif.

Daya tarik kursi presiden FIFA memang sangat besar, terbukti hanya ada empat presiden tetap FIFA sejak Stanley Rous terpilih pada 1961. Di luar Eropa, pendapatan rekor yang dihasilkan Infantino telah mendanai operasi sepak bola banyak negara, menciptakan loyalitas yang menjadi peraih suara efektif. Namun bagi UEFA dan beberapa asosiasi nasional lain, daftar pelanggaran Infantino sudah terlalu panjang dan FIFA tidak bisa terus dijalankan sebagai proyek otokratis.

Masa Depan Gianni Infantino di Tengah Tekanan Eropa

Ekspansi Piala Dunia memang masuk dalam manifesto pemilihan Infantino, dan penambahan jumlah peserta menjadi 64 tim untuk 2030 tampaknya sangat mungkin terjadi jika ia mendapatkan masa jabatan keempat. Trofi Club World Cup yang diperluas bahkan diukir dengan tulisan pribadi “Inspired by the Fifa president Gianni Infantino” atau “Terinspirasi oleh presiden FIFA Gianni Infantino”. Alokasi unik dua Piala Dunia berikutnya juga membantu memastikan Arab Saudi, sekutu dekat Infantino, mendapatkan ajang 2034.

Undian Piala Dunia musim panas ini digambarkan panjang, mewah, dan tidak lazim, dengan Trump tampil di pusat perhatian bersama Infantino. Namun, kontroversi tiket membayangi perhelatan tersebut, dengan banyak pendukung mengeluhkan harga yang terlalu tinggi dan sebagian yang siap membayar justru ditolak visa. FIFA memilih menggunakan pasar sekunder dengan harga tanpa batas dan bagi hasil 30 persen untuk setiap tiket yang terjual, sementara Jaksa Agung New York dan New Jersey mengeluarkan subpoena untuk meminta FIFA menjawab pertanyaan tentang praktik tiketnya.

Meski penuh kontroversi, Infantino diperkirakan tetap akan terpilih kembali karena dukungannya di seluruh dunia. Sebelum Piala Dunia, 111 asosiasi telah menyatakan dukungan—cukup untuk menjamin pemilihan kembali. Namun, setelah kegagalan rencana investasi swasta FIFA, gambaran itu menjadi tidak pasti, dan UEFA melihat momen ini sebagai peluang untuk memaksanya turun.

Kehidupan Gianni Infantino sebagai presiden FIFA adalah perpaduan antara kekuasaan, kemewahan, dan kontroversi yang tak ada habisnya. Dari hubungan dekatnya dengan Donald Trump hingga rencana bisnis yang gagal, ia terus menjadi figur yang memecah belah opini di dunia sepak bola. UEFA mungkin melihat ini sebagai momentum untuk menggulingkannya, tetapi seperti yang ditunjukkan oleh kehadirannya di pelantikan presiden Kolombia, menggeser Infantino