FILE PHOTO: Soccer Football - Championship - Leicester City v Millwall - King Power Stadium, Leicester, Britain - April 24, 2026 General view of empty seats before the match Action Images/Andrew Boyers EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR 'LIVE' SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS../File Photo

Leicester City Dijual di Atas £200 Juta, King Power Pamit

Leicester City dijual dengan harga lebih dari £200 juta. Klub yang pernah menjuarai Premier League secara ajaib pada 2016 itu siap ditinggalkan pemiliknya asal Thailand, King Power, setelah 16 tahun membesarkan The Foxes. Kabar ini menjadi babak baru bagi klub yang saat ini tengah terpuruk di League One.

Proses penjualan mulai berjalan setelah brosur setebal delapan halaman disusun oleh Citigroup, bank investasi terkemuka dari Amerika Serikat, untuk mencari pembeli. Sebelumnya, Financial Times pada Juli lalu telah melaporkan upaya Leicester mencari investor baru. Kini, brosur yang diedarkan ke calon pembeli itu menjadi konfirmasi publik bahwa klub benar-benar sedang dijual.

Leicester City Dijual Lewat Brosur ‘Project Lineup’ dari Citigroup

Brosur penjualan yang diberi judul ‘Project Lineup’ itu memuat berbagai aset utama Leicester City yang siap dilepas. Selain klub utama, Citigroup juga mencantumkan sejumlah aset bernilai tinggi dalam brosur setebal delapan halaman tersebut. Berikut rincian aset yang ditawarkan dalam penjualan Leicester City:

  • Tim putri Leicester City;
  • King Power Stadium berkapasitas 32.000 kursi;
  • Fasilitas latihan Seagrave yang dibuka pada 2020 dengan nilai £121 juta;
  • OH Leuven, klub saudara Leicester asal Belgia.

Berdasarkan dokumen yang dilihat BBC Sport, nilai seluruh aset fisik klub mencapai lebih dari £200 juta. Namun, tidak ada angka spesifik yang disebutkan untuk nilai jual tim yang sedang berjuang di divisi bawah itu. Brosur tersebut justru menyebut penjualan ini sebagai “kesempatan langka untuk memiliki klub dengan rekam jejak luar biasa dalam meraih promosi ke divisi yang lebih tinggi”.

Kejayaan yang Dipromosikan, Masalah yang Tak Disebut

Brosur tersebut gencar mempromosikan sederet prestasi Leicester City, mulai dari gelar Premier League 2016 dengan odds 5.000-1 hingga kemenangan Piala FA lima tahun kemudian. Namun, posisi Leicester di League One setelah dua kali degradasi beruntun dari Premier League dan Championship sama sekali tidak disebutkan. Hal ini menunjukkan upaya pemasaran yang selektif dalam menampilkan kondisi klub.

Di sisi lain, proyeksi pendapatan atau turnover klub untuk tahun fiskal 2026 diprediksi mencapai lebih dari £97 juta. Akan tetapi, tahun-tahun penuh kerugian finansial dan utang klub tidak ditampilkan dalam brosur. Laporan keuangan 2025 mencatat utang pinjaman bank Leicester mencapai £103,6 juta, sementara dalam periode naik-turun antara Premier League dan Championship, klub kehilangan lebih dari £180 juta.

Dari Mahkota Juara ke Jurang Degradasi

King Power, yang dikelola keluarga Srivaddhanaprabha, membeli Leicester dari Milan Mandaric dengan nilai £35 juta pada 2010. Setelah itu, klub mengalami transformasi luar biasa hingga mencatatkan sejarah sebagai juara Premier League 2016. Namun, tragedi menghantam ketika Khun Vichai Srivaddhanaprabha, sang pemilik saat itu, tewas dalam kecelakaan helikopter di luar stadion pada 2019.

Putranya, Khun Aiyawatt ‘Top’ Srivaddhanaprabha, kemudian mengambil alih kursi ketua klub. Sayangnya, di bawah kepemimpinannya Leicester justru mengalami dua kali degradasi dari Premier League dalam tiga tahun, yakni antara 2023 dan 2025. Musim lalu, Leicester kembali terdegradasi dari Championship sehingga harus memulai musim baru di League One, kasta ketiga yang baru kedua kalinya dalam sejarah klub.

Krisis King Power dan Tekanan dari Para Fans

Proses penjualan ini datang hanya delapan bulan setelah Khun Top mengaku menanggung beban kesalahan atas kemerosotan drastis klub. Tekanan dari para pendukung pun semakin besar, dengan protes paling vokal terjadi di luar King Power Stadium setelah degradasi dari Championship musim lalu terkonfirmasi. Sebagian fans bahkan sudah lama menyerukan agar klub segera dijual.

Kesulitan Leicester di lapangan berbarengan dengan masalah bisnis keluarga pemilik. Bisnis bebas bea King Power di Thailand yang selama ini terkait erat dengan klub juga tengah mengalami kesulitan keuangan. Meski demikian, brosur penjualan menempatkan Leicester sebagai salah satu dari hanya lima klub yang memenangi tiga trofi besar Inggris sejak 2000: Premier League, Piala FA, dan Piala Liga.

Brosur itu juga menyoroti potensi akademi klub dengan menyebut “jalur bakat yang kuat didukung infrastruktur pemindaian pemain terkemuka, manajemen transfer aktif, dan sistem akademi yang sangat berkembang”. Sebagai bukti nyata, Leicester baru saja melepas lulusan akademinya, Jeremy Monga, ke Manchester City dengan nilai transfer £10 juta bulan lalu. Pelatih kepala Russell Martin akan memimpin Leicester mengawali musim baru di League One dengan menghadapi Notts County pada Sabtu.

Siapa Calon Pembeli Leicester City?

Analis BBC Radio Leicester, Owynn Palmer-Atkin, menilai keinginan sebagian besar fans Leicester untuk melihat King Power menjual klub kini mulai terkabul. Namun, ia mengingatkan bahwa meskipun kesuksesan klub terasa seperti dongeng, kemerosotan dalam lima tahun terakhir tidak bisa diabaikan begitu saja. King Power telah mengubah aspirasi, ekspektasi, dan definisi kesuksesan di Leicester, dan kini mereka harus diukur dengan standar yang sama.

Ada banyak aset fisik yang jelas dan bernilai tinggi di Leicester, tetapi klub saat ini berada di posisi terendah sejak 2009. Dibutuhkan banyak waktu, usaha, dan uang untuk membawa Leicester kembali ke Premier League. Pertanyaan besarnya kini adalah: siapa yang bersedia mengambil alih Leicester City?

Ketika dihubungi BBC Sport, Leicester City menolak berkomentar mengenai brosur penjualan tersebut. Namun, dengan mulai diedarkannya dokumen ini, penjualan Leicester City tampaknya tinggal menunggu waktu. Semua mata kini tertuju pada calon pembeli yang bersedia membawa The Foxes bangkit dari keterpurukan.