Manchester City memetik kemenangan 3-0 atas Liverpool di Anfield pada laga pertama mereka sejak dinyatakan bersalah atas 114 dakwaan pelanggaran aturan keuangan Premier League untuk periode 2009-10 hingga 2017-18. Tiga gol kemenangan lahir di babak kedua melalui Erling Haaland, Jeremy Doku, dan Rayan Cherki, sekaligus mematahkan anggapan bahwa tekanan di luar lapangan akan mengganggu konsentrasi tim. Bagi City, hasil ini adalah pernyataan kekuatan di salah satu wilayah paling bermusuhan di Inggris.
Namun pertanyaan besarnya bukan soal skor. Ketika sanksi Manchester City masih menggantung dan banding belum diputus, kemenangan sebesar apa pun terasa kehilangan bobotnya. City memang masih memimpin klasemen dengan keunggulan tiga poin, tetapi mereka menunggu kemungkinan hukuman berat, termasuk degradasi dari Premier League atau pengurangan poin dalam jumlah rekor. Latar belakang inilah yang membuat laga di Anfield berlangsung dalam suasana yang jauh dari normal, terutama karena Liverpool adalah pihak yang paling keras merasa dirugikan oleh dominasi City selama satu dekade terakhir.
Kemenangan 3-0 di Tengah Atmosfer Anfield yang Membara
City memasuki Anfield lewat pintu khusus staf dan kontraktor, sebuah langkah yang memperlihatkan betapa tidak bersahabatnya sambutan yang mereka perkirakan. Suasana memang panas sejak awal: pengumuman susunan pemain City ditenggelamkan cemoohan, sementara berbagai spanduk dibentangkan di sekitar stadion. Bahkan syal setengah-setengah yang biasanya jadi bahan olok-olok laku keras, karena separuh berwarna biru langit itu bertuliskan “Shamchester City – The Cheats”.
Di lapangan, babak pertama berhasil mendinginkan atmosfer yang mulanya membara. City tampil tenang, tidak terpancing emosi, dan perlahan mengendalikan permainan sehingga suara gemuruh penonton kehilangan efeknya. Dominasi itu berlanjut di babak kedua, ketika Liverpool yang diasuh Andoni Iraola benar-benar dikuasai dan tidak mampu membalas tiga gol yang bersarang di gawang mereka.
Haaland, Doku, dan Cherki menjadi pencetak gol yang memastikan kemenangan tersebut. Selepas peluit akhir, para pemain City merayakannya dengan euforia, dan Haaland terlihat hampir menitikkan air mata di depan pendukung City, termasuk ayahnya, Alf-Inge. Head coach Enzo Maresca juga mengepalkan tinju tanda gembira, sementara DJ Anfield memutar lagu “Little Lies” dari Fleetwood Mac sebagai pesan perlawanan terakhir.
Akar Kemarahan Liverpool dan 114 Dakwaan yang Menghantui
Duduk perkara kemarahan di Anfield tidak bisa dilepaskan dari tiga musim ketika Liverpool finis sebagai runner-up di belakang City, yakni pada 2013-14, 2018-19, dan 2021-22. Sebagian pendukung Liverpool meyakini gelar-gelar itu bisa saja menjadi milik mereka jika City tidak memiliki kekuatan finansial pemilik berbasis di Abu Dhabi, yang digunakan dengan cara yang kemudian memicu penyelidikan. Keyakinan itulah yang membuat setiap kunjungan City ke Anfield selalu membawa muatan emosi lebih besar dibanding laga biasa.
Spanduk-spanduk yang dibentangkan menegaskan pesan tersebut, mulai dari “A Generation Of Supporters Cheated”, “And After All You Really Robbed Us All”, hingga “All Of Your Stars Are Fading Away” yang menyindir lagu Oasis berjudul Stop Crying Your Heart Out karya Noel Gallagher, yang kebetulan hadir di stadion. Sepanjang laga, nyanyian “cheat” menggema setiap kali pemain City menguasai bola dalam periode panjang. Dari tribun Kop, para pendukung tuan rumah juga meneriakkan ejekan “You’re going down” saat para pemain City meninggalkan lapangan.
Yang menarik, para pendukung City tidak menunjukkan tanda-tanda berpaling dari pemilik klub. Sebuah bendera bertuliskan “In Khaldoon We Trust. We’ve Won It All” dibentangkan sebagai dukungan untuk ketua klub Khaldoon Al Mubarak, disaksikan dengan wajah tanpa ekspresi oleh CEO City, Ferran Soriano. Ratusan balon berbentuk pisang juga dikibaskan, sebuah kebiasaan lama dari masa klub berkutat di divisi bawah, yang ironisnya bisa relevan kembali jika sanksi terberat benar-benar dijatuhkan.
Dampak Sanksi Manchester City: Bintang Asterisk di Setiap Kemenangan
Inilah persoalan yang membuat musim ini terasa aneh. Setiap kemenangan, setiap posisi di klasemen, akan datang dengan tanda asterisk metaforis sampai ada kejelasan dan keputusan final atas banding City. Tidak ada yang tahu kapan kepastian itu datang, dan ketidakpastian berkepanjangan semacam ini jelas tidak sehat bagi kompetisi secara keseluruhan. City memainkan peran mereka dengan sempurna di lapangan, tetapi bayang-bayang di luar lapangan tidak bisa dihindari.
Jika laga seperti ini terjadi di musim yang normal, kemenangan di Anfield akan dibaca sebagai penanda juara: sebuah pesan kepada para pesaing bahwa City siap melaju jauh. Tetapi dalam kondisi Premier League yang sedang limbung, pertandingan ini justru terasa sureal. Semua sensasi bahaya yang biasanya menyertai duel City melawan Liverpool, terutama di era Pep Guardiola dan Jurgen Klopp, seolah terkikis oleh situasi yang menyelimuti klub.
Mantan bek Liverpool dan Inggris, Stephen Warnock, menilai persoalan ini harus segera diselesaikan, meski mengakui jalan keluarnya sangat sulit. “Ini perlu diluruskan secepat mungkin, tapi ini bukan hal yang mudah untuk disimpulkan. Tidak ada habisnya. Ini sangat sulit dan akan butuh waktu lama untuk dibereskan,” ujarnya kepada BBC Radio 5 Live. Ia menambahkan bahwa kualitas City tidak bisa dipungkiri, tetapi selalu ada catatan yang menyertainya. “Bagian tersulitnya adalah ini tim Manchester City yang brilian, tapi Anda harus memberi catatan bahwa mereka melakukannya secara ilegal dan membeli jalan mereka. Anda terjebak dalam cara berpikir tentang tim City ini.”
Mantan penyerang Manchester United, Wayne Rooney, melihat situasi ini dari sisi ruang ganti. Ia pernah menangani Derby County ketika klub itu terkena pengurangan poin dan tahu betul bagaimana pesan kepada para pemain harus disederhanakan. “Semua kebisingan di sekitar klub, dari media dan penggemar lain, justru akan membuat mereka semakin lapar untuk sukses,” katanya. Ia juga tidak menutup kemungkinan ekstrem: “Mereka bisa saja bersaing untuk gelar atau berjuang menghindari degradasi di akhir musim. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi.”
Apa Kata Maresca dan Haaland tentang Tekanan di Luar Lapangan
Maresca memilih fokus pada hal-hal yang bisa ia kendalikan, dan itu tercermin dari cara timnya bermain. “Kami tahu akan ada kebisingan, tapi kami perlu membuat kebisingan kami sendiri dengan memenangi pertandingan,” ujarnya. “Kami harus belajar menangani kebisingan itu, tetapi pesannya tetap memenangi pertandingan.” Ia menegaskan tidak ingin menghabiskan energi untuk hal di luar jangkauannya. “Bagi saya itu cukup mudah. Saya berusaha fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan. Ada hal-hal yang tidak ada di tangan saya, jadi saya tidak stres soal itu. Saya tidak bisa mengendalikan hal di luar sepak bola, jadi mengapa harus stres? Saya stres soal rencana permainan dan sesi latihan harian, tapi sisanya bukan di tangan saya.”
Haaland menggambarkan kemenangan itu sebagai momen berharga bagi seluruh keluarga besar Manchester City. “Bagi setiap orang yang menjadi bagian dari Manchester City, setiap penggemar, ini momen indah yang akan lama melekat pada kami,” katanya. Ia mengakui laga berjalan berat, tetapi menilai timnya menunjukkan karakter luar biasa dari lini belakang hingga depan. “Selalu sulit datang ke sini. Kalau Anda lihat rekornya, memang sulit. Di era Pep Guardiola dan Jurgen Klopp, itu sulit bagi kedua tim, selalu begitu. Yang penting adalah tetap kuat secara mental, tetap bersama, dan mengerjakan apa yang bisa kami lakukan. Yang bisa kami lakukan adalah bermain sepak bola dengan baik dan bertarung bersama.”
Kedua pernyataan itu menunjukkan pola yang sama: City berusaha mengunci fokus pada lapangan karena hanya itu yang bisa mereka kendalikan. Namun pernyataan-pernyataan tersebut juga tidak bisa menyentuh inti persoalan, yaitu ketidakpastian hukum yang membuat seluruh kompetisi menahan napas.
Konteks Lebih Luas: Musim yang Bisa Berakhir Tanpa Kejelasan
Kemenangan di Anfield semestinya menjadi hasil yang tidak perlu disertai tanda tanya. City tampil superior, mencetak tiga gol di babak kedua, dan meninggalkan stadion dengan tiga poin penuh yang menjaga mereka di puncak klasemen. Tetapi dalam situasi sekarang, pertanyaan tentang keabsahan musim ini terus muncul, dan itulah yang membuat keberhasilan di lapangan terasa setengah matang.
Selama banding belum diputus dan keputusan akhir belum keluar, Premier League berada dalam pola tahan. City bisa saja melaju mulus, memenangi gelar, dan memperbesar jarak dari para pesaing, tetapi tidak ada yang tahu apakah mereka masih berada di kompetisi yang sama musim depan. Klub berada di antara dua kemungkinan ekstrem, dan setiap pihak yang terlibat, dari pemain, pelatih, hingga penggemar, dipaksa hidup dengan ketidakpastian itu.
Di sisi lain, ketidakpastian ini juga mengubah cara orang menonton sepak bola Inggris. Setiap pertandingan City menjadi semacam panggung ganda: ada hasil di lapangan, dan ada persidangan yang berjalan di luar lapangan. Bahkan para pendukung City menanggapinya dengan cara mereka sendiri, meneriakkan “We’re not really here” sebagai jawaban atas ejekan dari tribun Kop, seakan mengakui bahwa keberadaan klub di panggung ini sedang dipertanyakan.
Penutup
Kemenangan 3-0 di Anfield menegaskan bahwa Manchester City masih merupakan kekuatan paling menakutkan di lapangan, dengan Haaland, Doku, dan Cherki menjadi eksekutor yang memastikan hasil tersebut. Namun gemuruh sanksi Manchester City yang belum tuntas membuat prestasi itu tidak bisa dipisahkan dari tanda tanya besar, mulai dari 114 dakwaan atas pelanggaran aturan keuangan hingga potensi degradasi atau pengurangan poin dalam jumlah rekor.
Sampai ada keputusan final, setiap kemenangan City akan dibaca dengan syarat dan catatan, dan setiap posisi di klasemen akan terasa belum sah sepenuhnya. City hanya bisa melakukan apa yang bisa mereka kendalikan, yaitu memenangi pertandingan demi pertandingan. Sementara itu, Premier League harus menunggu, dan para penggemar sepak bola di seluruh dunia menonton sebuah musim yang hasil akhirnya bisa saja jauh berbeda dari apa yang terlihat di lapangan.
