Gianni Infantino berpeluang besar kembali terpilih sebagai Presiden FIFA tanpa menghadapi penantang dalam pemilihan mendatang. Dengan sekitar 40 hari tersisa menuju tenggat pencalonan pada 18 November, sejumlah tokoh senior sepak bola dunia menilai bahwa pria berusia 56 tahun itu kemungkinan besar akan melaju sendirian menuju Kongres FIFA di Rabat pada 18 Maret. Situasi ini menandai perubahan besar dibandingkan beberapa bulan lalu, ketika posisinya sempat dianggap rawan setelah muncul proposal bernama FIFA Forward Enterprise (FFE).
Proposal FFE, yang berisi rencana menjual hak komersial Piala Dunia kepada perusahaan ekuitas swasta, sempat membuat UEFA dan sekutunya yakin bisa menggulingkan Infantino. Namun, harapan itu perlahan memudar karena tidak ada kandidat kuat yang benar-benar siap maju. Alih-alih menghadapi pemilihan yang sesungguhnya, dunia sepak bola kini menghadapi kemungkinan bahwa Infantino akan kembali dinobatkan melalui mekanisme kongres yang sama seperti sebelumnya.
Peluang Infantino Melaju Tanpa Penantang
Hingga saat ini, hanya Ramon Vega, mantan bek Tottenham Hotspur dan timnas Swiss, yang secara terbuka menyatakan diri maju dalam pemilihan presiden FIFA. Namun, seperti yang terjadi empat tahun lalu, peluang Vega untuk lolos ke tahap pencalonan sangat tipis. Ia membutuhkan setidaknya lima surat dukungan dari 211 asosiasi anggota FIFA, dan hingga kini belum ada tanda bahwa dukungan itu akan terpenuhi.
Sementara itu, Victor Montagliani, Presiden Concacaf, sebelumnya disebut sebagai kandidat paling kredibel untuk menantang Infantino. Ia dipandang sebagai figur non-Eropa yang mampu menyatukan kekuatan oposisi. Akan tetapi, Montagliani tidak pernah secara terbuka menyatakan keinginannya mencalonkan diri, dan ia telah memberi tahu stafnya bahwa ia berniat mencalonkan diri kembali di Concacaf. Sikap itu praktis menutup peluangnya masuk ke bursa pencalonan presiden FIFA.
Di sisi lain, Infantino terus memperkuat posisinya dengan melakukan perjalanan ke berbagai belahan dunia. Ia menghadiri pelantikan presiden baru Kolombia, lalu mengunjungi turnamen sepak bola muda yang didanai FIFA di Republik Dominika. Pada akhir pekan, ia hadir di final FIFA Asean Cup di Jakarta, Indonesia, dan pekan ini menghadiri konferensi sepak bola Afrika di Tanjung Verde. Semua agenda itu memperlihatkan bahwa ia telah menjalankan kampanye secara efektif, bahkan sebelum pemilihan resmi dimulai.
Mengapa Posisi Infantino Begitu Kuat
Kekuatan posisi Infantino tidak lepas dari model pendanaan yang ia bangun, terutama di kawasan Afrika. Dalam konferensi di Tanjung Verde, ia menyatakan bahwa FIFA telah menginvestasikan 1 miliar dolar AS selama 10 tahun di Afrika. Pernyataan itu disampaikan di hadapan para delegasi, dan pada kesempatan yang sama, 54 negara Afrika yang menguasai lebih dari seperempat suara di FIFA kembali menyatakan dukungan tanpa syarat untuk ketiga kalinya pada tahun ini.
Dukungan tersebut bukan hanya soal suara, tetapi juga loyalitas. Di luar Eropa yang memiliki 55 suara, Infantino menikmati dukungan besar dari banyak asosiasi anggota. Peta kekuatan saat ini memperlihatkan perpecahan mendasar: UEFA, Concacaf, dan Asia berada di kubu yang menentang Infantino, sedangkan Afrika, Amerika Selatan, dan Oseania mendukungnya. Kondisi ini membuka kemungkinan bahwa Infantino tetap kembali terpilih meski hanya mengantongi dukungan sekitar setengah dari total anggota FIFA.
Sejarah FIFA juga menunjukkan betapa sulitnya mengganti seorang presiden yang sedang menjabat. Dalam 65 tahun terakhir, FIFA hanya memiliki lima presiden, dan hanya sekali seorang petahana kalah dalam pemilihan, yaitu Sir Stanley Rous dari Inggris pada 1974. Ketika Sepp Blatter mengundurkan diri pada 2015, ia melakukannya hanya delapan hari setelah memenangkan pemilihan ulang. Fakta-fakta ini menegaskan bahwa posisi presiden FIFA memiliki kekuatan politik yang sangat besar dan sulit digoyahkan dari luar.
Strategi UEFA dan Jalur Hukum
UEFA sebenarnya sempat memiliki satu senjata utama untuk menekan FIFA, yakni ancaman memboikot kompetisi. Ancaman itu digunakan untuk memaksa rencana FFE dibatalkan. Setelah FFE batal, UEFA mencabut ancaman boikotnya, tetapi beberapa jam kemudian mereka mengajukan klaim di tiga pengadilan Amerika Serikat untuk memperoleh dokumen terkait FFE. Jika dokumen itu memuat bukti yang memberatkan, UEFA berencana menempuh jalur “pengelolaan kriminal” melalui pengadilan Swiss dengan harapan bisa memaksa Infantino mundur.
Sejauh ini, yang terjadi baru sebatas pertukaran langkah hukum timbal balik. UEFA menyadari bahwa peluang menyingkirkan Infantino secara demokratis sangat kecil, sehingga jalur pengadilan menjadi opsi yang tersisa. Meski begitu, proses hukum biasanya berlangsung lama dan belum tentu menghasilkan bukti yang cukup untuk menjatuhkan seorang presiden FIFA.
Pekan depan, Infantino akan bertemu langsung dengan para pengkritik terkerasnya dalam pertemuan Dewan FIFA di Zurich. Agenda pertemuan tidak hanya membahas FFE, tetapi juga Hadiah Perdamaian FIFA yang diberikan kepada Donald Trump dan intervensi Presiden Amerika Serikat itu dalam kartu merah Folarin Balogun di Piala Dunia. Presiden UEFA Aleksander Ceferin diperkirakan hadir secara langsung bersama delapan perwakilan Eropa lainnya, termasuk ketua Football Association, Debbie Hewitt. Ceferin sendiri baru saja memastikan akan mencalonkan diri untuk periode keempat, dan ia tetap gigih mengkampanyekan pergantian kepemimpinan di FIFA.
Reformasi Tata Kelola dan Perlawanan yang Melemah
Jika Infantino benar-benar bertahan, UEFA menginginkan reformasi tata kelola FIFA. Namun, upaya itu juga menghadapi hambatan. Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia dan Wakil Presiden FIFA yang duduk di Dewan FIFA, sebelumnya dikenal sebagai pengkritik keras Infantino. Akan tetapi, dalam surat yang dikirim kepada Ceferin, Montagliani, dan Infantino pekan ini, ia menjauhkan diri dari gagasan “perombakan total sistem tata kelola FIFA”.
Al Khalifa menegaskan bahwa perubahan harus digerakkan oleh institusi sepak bola itu sendiri, bukan diserahkan kepada pihak eksternal. Pernyataan itu membuat peluang UEFA untuk mendapatkan dukungan luas bagi reformasi menjadi semakin kecil. Dengan kata lain, front oposisi tidak hanya kesulitan mencari kandidat, tetapi juga menghadapi tantangan untuk menyatukan agenda perubahan di dalam tubuh FIFA.
UEFA juga menuntut agar setiap negara menerima tambahan 10 juta dolar AS dari cadangan besar FIFA yang nilainya sekitar 6 miliar dolar AS. Namun, tuntutan itu justru bisa memperkuat posisi Infantino. Sebab, dalam politik FIFA, uang selalu menjadi alat yang efektif untuk memenangkan suara. Jika Infantino mengabulkan permintaan tersebut, ia berpotensi semakin mengukuhkan dukungan dari banyak asosiasi anggota.
Pertarungan yang Diperkirakan Berlanjut
Meski Infantino kemungkinan besar tidak menghadapi lawan di kotak suara, pertarungan di ranah hukum diperkirakan masih akan berlanjut hingga tahun depan. UEFA masih berharap menemukan bukti pelanggaran melalui dokumen-dokumen yang mereka upayakan di pengadilan Amerika Serikat. Jika bukti itu ada, mereka akan membawanya ke pengadilan Swiss untuk menempuh jalur pidana. Namun, hingga kini belum ada perkembangan yang benar-benar mengarah pada kesimpulan tersebut.
Sikap Infantino sendiri tampak mengalami pergeseran. Setelah FFE gagal, ia sempat melontarkan kritik terhadap pihak-penentangnya. Namun, belakangan ia lebih menunjukkan nada akomodatif, mungkin karena menyadari pendekatan itu lebih efektif untuk memenangkan pertarungan jangka panjang. Di Tanjung Verde, ia mengatakan bahwa dalam sebuah perjalanan, kadang muncul kekhawatiran, dan FIFA selalu berusaha mengatasinya dengan semangat dialog, tangan terbuka, hati terbuka, dan pikiran terbuka. Ia juga menambahkan bahwa FIFA selalu bisa menjadi lebih baik dan melakukan yang lebih baik.
Dengan konfigurasi dukungan yang ada, sulit membayangkan skenario di mana Infantino benar-benar tersingkir dalam waktu dekat. Oposisi masih mencari cara, tetapi mereka kehilangan momentum setelah FFE dibatalkan dan gagal menemukan kandidat tunggal yang mampu menantangnya. Sementara itu, Infantino terus memperkuat jejaring, menjaga hubungan dengan blok-blok suara utama, dan memanfaatkan sumber daya FIFA untuk mempertahankan loyalitas.
Pada akhirnya, pemilihan presiden FIFA kali ini tampaknya tidak akan menjadi pertarungan elektoral yang sengit, melainkan proses penobatan kembali bagi Gianni Infantino. Pertanyaan utamanya bukan lagi apakah ada yang bisa menghentikannya, melainkan seberapa besar biaya politik dan hukum yang harus ditanggung oleh mereka yang ingin mengubah arah kepemimpinannya. Selama tidak ada kandidat kuat dan bukti pelanggaran yang meyakinkan, posisi Infantino akan tetap kokoh, dan pertarungan sesungguhnya kemungkinan berpindah dari kongres ke ruang pengadilan.
