Gol dengan pantat ternyata bukan sekadar bahan guyonan di ruang ganti. Oli McBurnie, striker yang kembali dipanggil memperkuat skuad Skotlandia, belum lama ini sempat berujar bahwa ia akan senang andai bisa mencetak gol lewat tap-in atau bola yang masuk setelah memantul dari bagian belakang tubuhnya. Kelakar itu terasa masuk akal, sebab McBurnie mencatat 16 penampilan (kini menjadi 20) bersama tim nasional tanpa satu gol pun, sehingga cara paling realistis untuk memutus puasa gol justru datang dari pantulan bola yang nyaris tidak terduga.
Pertanyaan soal gol dengan pantat itu kemudian dilontarkan seorang pembaca ke rubrik tanya-jawab sepak bola The Knowledge. Redaksi rubrik tersebut mengaku sempat berharap menemukan contoh sempurna: seorang striker produktif yang tengah puasa gol panjang, lalu golnya lahir dari sapuan bola yang mengenai bokongnya dan menggelinding pelan melewati garis gawang. Contoh ideal semacam itu tidak kunjung ditemukan, tetapi kumpulan kisah gol pantat yang berhasil dihimpun justru punya daya tarik tersendiri karena keanehannya.
Dean Coney dan Gol yang Hanya Terjadi Sekali
Nama pertama yang muncul datang dari kompetisi Inggris pada akhir dekade 1980-an. Dalam laga Norwich melawan Aston Villa pada 1989 yang berakhir imbang 2-2, Dean Coney mencetak gol lewat cara yang tidak biasa. Ia menutup sapuan bola dari kiper Villa, Nigel Spink, dan bola hasil pantulan itu mengarah masuk ke gawang.
Yang membuat kisah ini istimewa, gol tersebut ternyata menjadi satu-satunya gol Coney bersama Norwich. Artinya, momen paling berkesan dalam kariernya di klub itu lahir bukan dari tendangan bersih, melainkan dari pantulan yang mengenai tubuhnya sendiri. Catatan ini dikirimkan pembaca rubrik, Gary Southwell, yang memastikan bahwa gol itu memang tercatat atas nama Coney.
Kasus Coney menunjukkan pola yang akan terus muncul di kisah-kisah berikutnya. Gol pantat jarang lahir dari pemain yang sedang tajam, dan hampir selalu datang dari situasi yang sulit direncanakan siapa pun.
Robbie Slater dan Tradisi Gol Backside di Timnas Australia
Kejadian serupa terulang di level internasional beberapa tahun kemudian. Robbie Slater, pemain Australia yang sempat merasakan gelar Premier League bersama Blackburn, tercatat mencetak gol pertamanya untuk Socceroos dengan bantuan bagian belakang tubuhnya. Gol itu lahir ketika Australia menghadapi Kepulauan Solomon pada laga internasional penuh ke-21 bagi Slater.
Gol tersebut menjadi pembuka kemenangan 6-2 dalam babak kualifikasi Piala Dunia 1998 di Prancis. Pelatih Australia kala itu, Terry Venables, dilaporkan merespons dengan senyum canggung. Maklum, hanya dalam rentang 12 bulan ia berpindah dari menyaksikan gol indah Paul Gascoigne melawan Skotlandia saat masih menangani Inggris, ke sebuah gol pantulan pantat melawan Kepulauan Solomon.
Kontras itulah yang membuat kisah Slater begitu sering dikenang. Sebuah tim yang sedang berjuang menembus putaran final Piala Dunia justru membuka jalan lewat gol yang secara estetika nyaris tidak bisa dibanggakan.
Souleymane Oularé: 80 Menit yang Mengantar Stoke ke Final
Pada Mei 2002 di Ninian Park, sebuah laga semifinal playoff ditentukan oleh bagian belakang tubuh striker asal Guinea, Souleymane Oularé. Pemain yang hanya tampil dua kali untuk Stoke City itu mencetak satu-satunya golnya di semifinal playoff melawan Cardiff. Gol tersebut tercipta di babak perpanjangan waktu dan memastikan Stoke melaju ke partai final.
Stoke sebenarnya kalah 2-1 pada leg pertama di kandang sendiri. Mereka memaksa perpanjangan waktu di Ninian Park setelah James O’Connor mencetak gol pada menit ke-90. Lima menit menjelang akhir perpanjangan waktu, tendangan bebas O’Connor mengenai tubuh Oularé dan memantul masuk ke gawang. Oularé sendiri baru dimasukkan sebagai pemain pengganti ketika Stoke mengejar ketertinggalan, setelah hampir empat bulan absen dari tim.
Kisah di balik gol itu jauh lebih berat daripada sekadar pantulan bola. Oularé direkrut pada Desember 2001, tetapi harus menepi hampir sepanjang musim karena penggumpalan darah yang mengancam nyawanya setelah debut melawan Northampton. Setelah empat tahun berkutat di kasta ketiga, level terendah dalam sejarah klub, Stoke akhirnya menumbangkan Brentford di final playoff.
Oularé tetap duduk di bangku cadangan pada laga final itu dan tidak pernah bermain untuk Stoke lagi. Total penampilannya bersama klub tersebut hanya sekitar 80 menit, namun namanya tercatat sebagai bagian dari sejarah kebangkitan Stoke.
Gol dengan Pantat di Era Sepak Bola Modern
Tradisi gol aneh ini tidak berhenti di masa lalu. William Saliba, bek Arsenal, mencetak gol dengan bagian belakang tubuhnya saat menghadapi Manchester United pada musim 2024-25. Sementara itu, Thierno Barry menggelindingkan bola ke gawang dengan bagian belakang tubuhnya untuk memberi Everton kemenangan di St James’ Park pada musim lalu.
Di Women’s Super League, pantulan besar dari Sjoeke Nüsken membuat Chelsea unggul 3-0 dalam laga penting melawan Arsenal pada Maret 2024. Namun, hingga kini belum bisa dipastikan apakah bola benar-benar mengenai pantat atau hanya bagian kaki pemain tersebut. Ketidakpastian semacam ini memang jadi ciri khas gol pantat: sering sulit dibuktikan, tetapi selalu menarik untuk ditonton ulang.
Kasus lain datang dari Tannadice pada 2010, ketika harapan Rangers meraih treble domestik pupus akibat kekalahan di perempat final Piala Skotlandia dari Dundee United. Satu-satunya gol dalam laga itu dicetak David Robertson dalam situasi yang sangat aneh. Sama seperti kasus Nüsken, tidak ada kepastian seratus persen bahwa itu memang gol pantat, tetapi tayangannya tetap layak dicari.
Mengapa Gol Pantat Sulit Dibuktikan tapi Selalu Dikenang
Dari sekian kasus yang terkumpul, satu pola menarik muncul ke permukaan. Gol pantat hampir selalu identik dengan pemain yang jarang mencetak gol, entah karena ia seorang bek, gelandang bertahan, atau striker yang kebetulan sedang apes. Dean Coney hanya sekali membobol gawang untuk Norwich, Oularé cuma mencatat 80 menit berseragam Stoke, sedangkan Saliba adalah bek tengah yang jarang naik membantu serangan.
Selain itu, gol pantat nyaris tidak bisa dinilai secara teknik. Tidak ada tendangan terarah, tidak ada penyelesaian rapi, dan tidak ada keputusan sadar dari pemain yang mencetaknya. Yang ada hanya posisi tubuh yang kebetulan berada di jalur bola, sehingga pencatat statistik sering harus menonton ulang tayangan sebelum menetapkan siapa pencetak golnya.
Topik pantat memang kerap muncul setiap kali pemain membicarakan cara memutus puasa gol. Bagi mereka, mencetak gol dengan cara apa pun tetap lebih baik daripada tidak mencetak gol sama sekali, dan pantulan yang menguntungkan sering dianggap sebagai keberuntungan yang datang tepat waktu.
Politisi di Derby Klub: Burnham, Carney, dan Tamu Downing Street
Perbincangan soal gol pantat membawa rubrik ini ke topik lain yang juga diangkat pembaca. Andy Burnham dan Mark Carney diketahui hadir langsung saat Everton menghadapi Wolves di ajang Carabao Cup. Keduanya merupakan penggemar Everton dan menyaksikan kemenangan 1-0 atas Wolves pada bulan lalu, dengan Burnham bahkan pernah difoto berlari memakai jersey retro bersponsor Hafnia. Seorang pembaca lalu bertanya apakah ada dua pemimpin nasional yang pernah menonton laga klub di Inggris selain pada partai final Eropa.
Jawabannya pernah terjadi. Tony Blair, yang dikenal sebagai penggemar Newcastle, mengajak Bertie Ahern ke dua laga Newcastle melawan Manchester United. Laga pertama berlangsung pada 1997 di St James’ Park, ketika Newcastle kalah 1-0 lewat gol Andy Cole; laga kedua adalah final Piala FA 1999 di Wembley, yang juga dimenangkan Manchester United dalam perjalanan mereka menuju treble.
Dengan demikian skornya 0-2 untuk Ahern, mengingat mantan perdana menteri Irlandia itu adalah penggemar Manchester United seumur hidup. David Cameron, yang mendukung Aston Villa dan West Ham, memang pernah menjadi tuan rumah pertemuan puncak 2015 dengan Presiden Xi di pusat latihan Manchester City, tetapi jadwal sepak bola domestik lama berada di luar radar politiknya. Ia sempat menonton final Liga Champions 2012 di televisi bersama Barack Obama dan Angela Merkel.
Sanksi Tertunda: Kasus Eastwood dan Matoukou
Pertanyaan pembaca lainnya menyoroti hukuman yang baru dijalankan bertahun-tahun setelah pelanggaran terjadi. Simon Eastwood, kiper Oxford United, mendapat kartu merah menjelang akhir laga EFL Trophy di markas AFC Wimbledon pada 9 Januari 2024, ketika timnya tersingkir setelah kalah 2-0. Karena Oxford menghabiskan dua musim berikutnya di Championship, hukuman Eastwood baru kembali berlaku pada laga melawan Exeter. Jarak antara kartu merah dan eksekusi hukumannya mencapai 999 hari, atau dua tahun delapan bulan 25 hari.
Kisah yang lebih rumit datang dari Éric Matoukou. Pada 19 Agustus 2010, ia menerima kartu merah saat membela Genk di kualifikasi Liga Europa melawan Porto dan dijatuhi sanksi dua pertandingan. Ia menjalani laga pertama hukumannya pada 26 Agustus 2010, saat Genk sudah tersingkir. Pada 2011 ia pindah ke Dnipro di Ukraina, dan klub barunya memainkan dua laga kualifikasi Liga Europa tanpa memasukkan namanya ke dalam skuad.
Matoukou kemudian dipinjamkan ke Arsenal Kyiv dan tampil pada 2 Agustus 2012 dalam kualifikasi Liga Europa melawan Mura. Karena pertandingan kedua hukumannya belum dijalani, keikutsertaannya membuat Arsenal Kyiv dianggap kalah dan Uefa mengulang sanksi dua laga tersebut dari awal. Ia menjalani lagi laga pertama pada leg kedua, tetapi tetap menyisakan satu pertandingan yang tidak pernah tuntas hingga sekarang.
Setelah kembali ke Dnipro, klub itu memainkan delapan laga Liga Europa tanpa pernah memasukkan Matoukou ke skuad Eropa mereka. Ia hengkang pada 2014, dan klub-klub berikutnya seperti Lierse, Inter Turku, serta Pafos tidak pernah lolos ke kompetisi Eropa. Kini berusia 43 tahun dan terakhir bermain untuk klub amatir Belgia, Sprimont Comblain, peluang Matoukou menuntaskan hukuman yang diterimanya lebih dari 16 tahun lalu sangat kecil.
Dari Arsip: Butuh Berapa Detik untuk Menyamakan Kedudukan?
Pertanyaan lama dari arsip rubrik ini juga menarik untuk diangkat kembali. Seorang pembaca pernah bertanya apakah ada tim yang langsung menyamakan kedudukan pada menit pertama, dan seberapa cepat sebuah laga mencapai skor 2-2, 3-3, dan seterusnya.
Salah satu jawaban datang dari laga Coventry melawan Northampton di Checkatrade Trophy pada Oktober. Dan Agyei mencetak gol solo yang apik untuk Coventry hanya 20 detik setelah kick-off, tetapi satu menit berselang Marc Richards menyamakan kedudukan bagi Northampton. Artinya skor 1-1 sudah tercipta dalam waktu sekitar 90 detik, dan laga itu akhirnya berkesudahan 3-1 untuk The Sky Blues.
Contoh lain datang dari Serie A pada 13 September 1992, dalam laga antara tim promosi Pescara dan juara bertahan Milan. Massimiliano Allegri membawa Pescara memimpin pada menit pertama, lalu Paolo Maldini menyamakan kedudukan dua menit kemudian dan Gianluigi Lentini membuat Milan unggul pada menit kelima. Dua gol bunuh diri Franco Baresi pada menit ke-12 dan ke-14 mengubah skor menjadi 2-2, sebelum Pescara kembali memimpin pada menit ke-23. Marco van Basten mencetak dua gol beruntun pada menit ke-37 dan ke-39 sehingga kedudukan 4-4 bertahan hingga turun minum, dan di babak kedua ia melengkapi hattrick untuk memastikan kemenangan 5-4 Milan.
Pertanyaan yang Masih Menunggu Jawaban
Rubrik ini juga membuka sejumlah pertanyaan yang belum terjawab dan mengundang pembaca untuk berkontribusi. Beberapa di antaranya:
- Setelah kerja sama 70 tahun, jersey timnas Jerman tidak lagi diproduksi Adidas dan beralih ke Nike. Apakah itu kemitraan penyediaan jersey terpanjang dalam sejarah, dan apa rekor terpanjang yang masih berjalan di level klub?
- Apakah pernah ada laga di empat kasta teratas sepak bola Inggris yang berjalan tanpa tambahan waktu sejak aturan itu diperkenalkan pada 1891?
- Setelah Skotlandia mendapat kartu merah di dua laga terakhirnya melawan Swiss dan Makedonia Utara, berapa rekor beruntun terbanyak sebuah timnas atau klub selalu kehilangan pemain karena kartu merah?
- George Desmond Kamurasi, kiper klub kasta kesembilan Inggris, SE Dons, sempat dipilih menjadi raja baru Kerajaan Tooro di Uganda meski dilaporkan menolak. Seberapa tinggi level sepak bola yang pernah dimainkan seorang bangsawan?
- Scott McDonald, striker produktif Motherwell dan Celtic, mengumpulkan 26 caps Australia tanpa satu gol. Adakah striker dengan caps internasional lebih banyak tanpa mencetak gol?
- Harry Kane kini menjadi pencetak gol terbanyak ketujuh Bayern sepanjang masa sekaligus top skor Tottenham, sementara Jimmy Greaves yang ia lewati juga menjadi pencetak gol terbanyak ketujuh Chelsea. Adakah pemain lain yang masuk daftar sepuluh besar pencetak gol dua klub atau lebih?
- Peringkat FIFA terbaik Skotlandia adalah 13 pada 2007 dan terburuk 88 pada 2005, selisih 75 posisi. Apakah itu jarak terbesar antara peringkat terbaik dan terburuk sebuah timnas?
Kesimpulan
Jadi, apakah benar ada pemain yang memutus puasa golnya berkat bola yang memantul dari pantat? Jawabannya ada, meski tidak selalu dalam bentuk seideal yang dibayangkan pencari cerita. Dean Coney, Robbie Slater, dan Souleymane Oularé adalah bukti bahwa gol dengan pantat bisa datang di momen paling penting, bahkan ketika pelakunya bukan pemain yang biasa mencetak gol.
Bagi pemain yang tengah dilanda puasa gol seperti McBurnie, cara seperti ini mungkin terdengar seperti lelucon. Namun sejarah mencatat bahwa pantulan yang tidak terduga beberapa kali justru menjadi satu-satunya jalan menuju papan skor. Itulah mengapa gol pantat selalu punya tempat tersendiri dalam daftar gol paling aneh sekaligus paling diingat dalam sepak bola.
