Rodri kini menjalani babak baru kariernya bersama Barcelona, setelah meninggalkan Manchester City pada musim panas ini. Kepindahan itu bukan tanpa drama: Real Madrid dikabarkan mengejarnya dengan sangat serius, tetapi gelandang bertahan berusia 30 tahun itu memilih proyek Blaugrana. Keputusannya lebih didasari pertimbangan sepak bola ketimbang alasan pribadi, dan itulah yang membuat langkahnya menarik untuk dicermati.
Kenapa hal ini penting? Sebab Rodri bukan sekadar pemain biasa. Ia sudah mengoleksi 12 trofi besar bersama Man City, membantu Spanyol menjuarai Euro dan Piala Dunia, serta meraih Ballon d’Or 2024. Ia juga masih masuk bursa untuk memenanginya lagi pada Oktober nanti, pencapaian yang jarang diraih seorang gelandang bertahan. Di tengah sorotan itu, Rodri tetap sosok yang menghindari panggung — dan justru itu yang membuat perjalanannya berbeda dari kebanyakan bintang modern.
Sosok Introvert yang Mengendalikan Pertandingan
Rodri tidak pernah ingin menjadi sosok yang menarik perhatian. Ketika satu generasi pemain sibuk membangun merek pribadi dan mengejar klik di media sosial, ia justru menjauh dari semuanya. Ia mengaku sebagai introvert yang kebetulan mengendalikan jalannya pertandingan sepak bola sebagai pekerjaan. Baginya, membahas taktik terasa sama naturalnya dengan pemain lain membahas mobil.
Namun rekam jejaknya jauh dari kesan sederhana. Bersama Manchester City, ia meraih 12 trofi mayor, sementara bersama tim nasional Spanyol ia ikut mengantar negaranya menjuarai Euro dan Piala Dunia. Pada 2024 ia memenangi Ballon d’Or, dan kini namanya kembali masuk dalam perburuan trofi individu paling bergengsi itu untuk kedua kalinya pada Oktober.
Rodri juga tidak menghindar ketika klubnya berada dalam tekanan. Pada Sabtu lalu, ia menegaskan bahwa kesuksesan yang ia raih bersama Man City tidak bisa dicabut begitu saja, setelah klub dinyatakan bersalah melanggar mayoritas dari 115 aturan keuangan yang dituduhkan Premier League. City sendiri disebut akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Pernyataan itu menunjukkan sisi lain dirinya: seorang pemain yang memilih berbicara saat situasinya menuntut, meski ia lebih nyaman menghindari sorotan.
Connecticut, Castellon, dan Fondasi Sepak Bola Cerdas
Permainan Rodri dibentuk oleh sistem pendidikan yang memandang kecerdasan sepak bola sebagai sesuatu yang bisa diajarkan dan dibentuk. Akademi di Spanyol bekerja dengan prinsip bahwa pelatih pada dasarnya adalah guru, dan Rodri menyerap gagasan itu sejak usia dini. Meski demikian, ia juga keluar dari zona nyaman jauh sebelum waktunya.
Saat berusia 14 tahun, ayahnya ingin ia menghabiskan setahun di sebuah SMA di Amerika Serikat. Rencana itu batal karena ia menjalani satu musim di tim muda Villarreal, sehingga keluarga mencari jalan tengah: sebuah kamp musim panas di pedalaman hutan Connecticut. Pengalaman itu memberinya kemampuan berbahasa Inggris yang fasih dengan aksen Amerika, yang belakangan sering menjadi bahan godaan rekan-rekannya di Man City. Di tempat itu pula ia menonton Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010, sendirian di tepi danau, ribuan kilometer dari rumah.
Pembelajarannya berjalan lebih cepat setelah ia dilepas Atletico Madrid saat masih remaja, karena kondisi fisiknya belum menyusul kecerdasan sepak bolanya. Villarreal lalu merekrutnya, dan di sanalah dua jalur hidupnya — sepak bola dan pendidikan — berjalan sejajar. Ia pindah ke Castellon, kota terbesar di dekat Villarreal, pada usia 17 tahun, dan mendaftar kuliah jurusan administrasi bisnis. Latihan pagi ia jalani, kuliah sore ia ikuti, dan ia bersepeda ke tempat latihan sambil hidup di antara mahasiswa yang tidak tahu bahwa teman kelas mereka yang pendiam sebentar lagi akan menjadi starter di La Liga.
Barulah ketika ia muncul di televisi suatu malam, teman-teman satu flatnya menyadari bahwa anak dari kelas akuntansi itu mengenakan kostum bernomor enam untuk Villarreal. Rodri sendiri pernah menyebut masa tersebut sebagai periode terbaik dalam hidupnya. Kombinasi latihan, kuliah, dan kehidupan mahasiswa biasa itulah yang membentuk cara dia membaca pertandingan sampai sekarang.
Jalan Menuju Puncak: Simeone, City, dan Gol di Final
Atletico Madrid membawanya kembali pada 2018 di bawah asuhan Diego Simeone, sosok yang menajamkan intensitas dan daya saingnya. Pengalaman itu memberinya sisi keras yang sebelumnya tidak terlalu terlihat. Satu tahun berselang, Manchester City membayar klausul pelepasan senilai 70 juta euro, dan Pep Guardiola mengubahnya menjadi salah satu gelandang bertahan terbaik di generasinya.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Kekalahan di final Liga Champions 2021 melawan Chelsea meninggalkan luka mendalam, sampai-sampai ia tidak mampu berbicara dengan keluarganya sendiri setelah pertandingan. Dua tahun kemudian datang penebusan itu: golnya yang memastikan City menjuarai Liga Champions 2023. Gol tersebut mengubah cerita kariernya secara menyeluruh.
Setelah itu, gelar Euro bersama Spanyol menyusul, disusul Ballon d’Or, lalu gelar Piala Dunia beserta penghargaan MVP yang mengantar langkahnya ke Barcelona pada musim panas ini. Rangkaian pencapaian tersebut menjelaskan mengapa kepindahannya menjadi salah satu transfer paling dibicarakan di Eropa. Melihat rentetan itu, wajar jika banyak pihak merasa kisah Rodri masih jauh dari kata selesai.
Kenapa Rodri Menolak Real Madrid dan Memilih Barcelona
Rodri cukup terbuka soal betapa seriusnya minat Real Madrid kepadanya pada musim panas ini. Berbicara kepada radio olahraga Spanyol, COPE, ia menyebut Madrid berperilaku sangat baik dan mendekatinya dengan cara yang benar sejak kontak pertama. Ia berbicara dengan banyak orang di dalam maupun di sekitar klub, dan mengakui kehangatan percakapan itu justru membuat keputusan akhirnya terasa lebih berat.
Pelatih baru Madrid, Jose Mourinho, menyampaikan gagasan sepak bolanya dengan jelas, termasuk apa yang ia inginkan secara pribadi dari Rodri, dan pendekatan semacam itu menarik baginya. Di dalam Madrid sendiri, keyakinan bahwa Rodri adalah pemain yang mereka butuhkan datang dari lebih banyak pihak, bukan hanya sang pelatih. Beberapa figur di klub masih menganggapnya sebagai profil yang saat ini hilang dari skuad, yakni gelandang pengatur yang mampu mendikte tempo dengan cara yang belum bisa ditiru pemain mana pun yang ada sekarang. Madrid belum menemukan alternatif yang setara, sehingga celah yang seharusnya diisi Rodri tetap terbuka.
Alasan Rodri menolak tawaran itu bersifat sepak bola, bukan personal. Keputusannya bertumpu pada di mana ia bisa tumbuh dan memberi kontribusi paling besar, yaitu sebuah proyek yang dibangun di sekitar skuad berisi banyak pemain muda, sebagian sudah ia kenal, dan yang cocok dengan cara dia memahami permainan. Pada akhirnya, ini soal tim mana yang paling membutuhkan apa yang ia tawarkan, dan di mana ia bisa membuat perbedaan terbesar.
Yang Diberikan Rodri untuk Barcelona
Rodri adalah ensiklopedia sepak bola yang berjalan, dan banyak pihak menilainya sebagai gelandang bertahan terbaik di dunia saat ini. Kemampuannya dalam positional play termasuk yang terbaik, bukan hanya karena apa yang ia lakukan sendiri, tetapi juga karena apa yang ia munculkan dari rekan-rekannya. Tanpa bola, baik ketika menekan maupun saat mundur membantu pertahanan, ia memberi rasa aman di depan lini belakang, terutama pada momen-momen ketika Barcelona kehilangan penguasaan bola.
Dengan bola, ia juga istimewa karena mendistribusikannya dengan cepat dan hampir selalu memilih jalur yang tepat. Semua kualitas itu terlihat di setiap pertandingan Barcelona. Kedatangannya disebut kalangan internal klub sebagai salah satu perkembangan paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir, baik di dalam maupun di luar lapangan, dan ia tampil di semua laga kecuali satu dari start sempurna Barcelona pada musim ini.
Bagi skuad yang kehilangan beberapa figur senior dalam beberapa musim terakhir, pengalaman Rodri di momen-momen bertekanan tinggi menambah stabilitas yang sebelumnya tidak ada. Ia juga mengambil peran mentoring informal bagi lulusan akademi klub, dan beberapa di antaranya sudah menganggapnya sebagai titik rujukan. Ia cenderung menjelaskan alih-alih sekadar mencontohkan, sebuah insting yang membuat staf pelatih sama terkejutnya seperti saat melihat kualitas sepak bolanya.
Ia memang tidak memakai ban kapten, dan mungkin belum akan memakainya dalam waktu dekat. Namun di dalam ruang ganti, banyak yang sudah membicarakannya sebagai kapten dalam segala hal kecuali gelarnya.
Kemitraan dengan Pedri dan Perbedaan Flick vs Guardiola
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, menegaskan sejak hari pertama bahwa klub merekrut tipe gelandang yang sebelumnya tidak mereka miliki, sekaligus sosok rujukan bagi skuad yang sedang membangun ulang. Kemitraan Rodri dengan Pedri pun muncul sebagai salah satu tanda paling menjanjikan, terutama karena sebelumnya sempat ada keraguan soal kecocokan keduanya. Keduanya menyatu secara alami, mengatur tempo, dan berbagi tanggung jawab dalam mengalirkan bola.
Flick menilai mereka mampu mengendalikan pertandingan melalui posisi, penguasaan bola, dan cara membaca permainan, bukan lewat keunggulan fisik. Pendekatan itu sejalan dengan karakter Rodri yang lebih mengandalkan pemahaman ruang dan waktu. Kombinasi tersebut membuat lini tengah Barcelona punya kendali yang lebih terukur pada fase-fase penting pertandingan.
Ketika diminta membandingkan Flick dengan Guardiola, Rodri menjawab tanpa ragu: keduanya tidak mirip sama sekali. Ia mengaku datang ke Barcelona dengan bayangan akan menjalani sesi rondo dan latihan penguasaan bola, tetapi yang ia temui justru berhari-hari kerja fisik berat di gym. Guardiola mempercayai kompetisi untuk membangun ketajaman bertanding, sementara Flick memilih jalan berbeda bagi pemain yang bergabung terlambat di pramusim dengan langsung menggenjot mereka sejak awal.
Seperti yang bisa diduga dari rekam jejak dan kepribadiannya, Rodri memilih beradaptasi alih-alih melawan. Sikap itu sekaligus menegaskan pola yang konsisten sepanjang kariernya: menyerap apa pun yang diminta lingkungan, memahami alasannya, lalu menjalankannya.
Kesimpulan
Perjalanan Rodri dari kamp musim panas di Connecticut, ruang kuliah di Castellon, hingga final Liga Champions menunjukkan bahwa kesuksesannya dibangun di atas kemampuan beradaptasi dan memahami permainan, bukan sekadar bakat. Keputusannya menolak Real Madrid demi Barcelona memperlihatkan bahwa ia menimbang karier dengan logika sepak bola: di mana ia bisa tumbuh dan memberi dampak terbesar.
Di Barcelona, ia sudah menjadi pengendali tempo, penstabil ruang ganti, dan rujukan bagi pemain muda, meski belum mengenakan ban kapten. Dengan Ballon d’Or kedua yang masih mungkin diraih pada Oktober, serta skuad yang terus berkembang di bawah Flick, babak baru ini tampaknya baru permulaan dari kisah yang belum selesai.
