Model Kompas Sepak Bola Jerman dan Juara Tanpa Promosi

Kapten Lokomotive Leipzig, Djamal Ziane, baru saja mengangkat trofi juara Regionalliga Nordost untuk ketiga kalinya dalam tujuh musim terakhir. Gelar itu menjadi yang kedua secara beruntun bagi Lok Leipzig, tetapi sama seperti pada 2025 dan 2020, titel liga tersebut tidak berujung pada promosi ke 3. Liga. Ziane mencetak gol di laga playoff melawan wakil Regionalliga Bayern, Würzburger Kickers, namun timnya yang diterpa badai cedera kalah 3-1 secara agregat.

Kasus Lok Leipzig bukan kejadian tunggal, melainkan gejala dari masalah struktural yang lama mengendap di piramida sepak bola Jerman. Liga keempat negeri itu terbagi menjadi lima divisi regional, sementara jumlah slot promosi jauh lebih sedikit daripada jumlah juara yang dihasilkan setiap musim. Perdebatan panjang soal model kompas sepak bola Jerman pun memasuki babak baru setelah Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengumumkan rapat umum luar biasa pada 18 Desember.

Bottleneck di Liga Keempat: Juara Tidak Selalu Naik Kasta

Di bawah Bundesliga, 2. Bundesliga, dan 3. Liga, kompetisi kasta keempat Jerman dipecah menjadi lima wilayah: Utara, Barat, Barat Daya, Timur Laut, dan Bavaria. Masing-masing wilayah melahirkan satu juara liga pada akhir musim. Pada titik ini persoalan mulai muncul, karena lima juara tersebut harus diperas ke dalam jumlah slot promosi yang terbatas.

Setiap musim hanya ada empat tim yang terdegradasi dari 3. Liga. Artinya, hanya tersedia empat tempat kosong untuk diperebutkan oleh lima juara regional. Perhitungan itu tidak pernah seimbang, dan federasi menyelesaikannya dengan formula yang dianggap banyak pihak tidak adil.

Formula yang berlaku saat ini memberi promosi otomatis kepada juara wilayah Barat dan Barat Daya. Slot otomatis ketiga diputar bergiliran di antara tiga liga lain dalam siklus tiga tahun. Sementara itu, slot keempat ditentukan melalui laga playoff antara dua juara yang tersisa. Konsekuensinya jelas: selalu ada satu juara yang gagal naik kasta, dan dalam beberapa tahun terakhir, yang paling sering menjadi korban adalah juara dari Regionalliga Nordost, wilayah yang mencakup bekas teritori Jerman Timur.

Jejak Klub Timur yang Berulang Kali Kehilangan Kesempatan

Selain tiga kekecewaan berturut-turut Lok Leipzig, mantan juara Oberliga GDR yang rutin berjaya, Dynamo Berlin, juga gagal menembus 3. Liga pada 2022. Setahun kemudian, giliran Energie Cottbus yang bernasib sama. Dampaknya terasa pada komposisi kompetisi: musim ini hanya ada satu klub asal Jerman Timur di 3. Liga, yaitu Hansa Rostock.

Kesulitan klub-klub kawasan timur tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan sosial-ekonomi yang masih berlanjut antara timur dan barat Jerman. Ketimpangan itu bahkan tercermin pada perolehan suara partai kanan ekstrem Alternative for Germany (AfD) dalam pemilihan negara bagian terakhir. Hingga 2026, tidak ada satu pun dari 40 perusahaan terkemuka yang tercatat di indeks saham DAX yang berbasis di bekas Jerman Timur, di luar Berlin.

Gaji di kawasan timur tetap lebih rendah, angka pengangguran lebih tinggi, dan populasi lebih tua serta menyusut karena generasi muda pindah ke barat. Alasan slot promosi otomatis diberikan kepada juara Barat dan Barat Daya pun sederhana: jumlah tim sepak bola pria yang terdaftar di wilayah itu lebih banyak, karena penduduknya memang lebih padat.

Argumen Jumlah Tim versus Tradisi dan Jumlah Penonton

Ziane mengaku lelah mendengar argumen berbasis jumlah penduduk tersebut. Menurut dia, jika ukuran keberhasilan adalah daya tarik pertandingan, maka klubnya justru layak mendapat slot promosi otomatis. Data memang mendukung klaim itu: rata-rata kehadiran penonton di Regionalliga Nordost musim lalu mencapai 3.125 orang, sekitar dua kali lipat dibandingkan liga-liga lain di kasta yang sama.

Lok Leipzig sendiri mencatat rata-rata kehadiran tertinggi keempat, yakni 6.352 penonton. Derbi lokal melawan rival sekota, Chemie Leipzig, bahkan dihadiri lebih dari 11.000 orang. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa basis pendukung di kawasan timur jauh lebih besar daripada yang tercermin dalam sistem promosi saat ini.

Chief Executive Lok Leipzig, Toni Wachsmuth, yang berusia 39 tahun, menegaskan bahwa tradisi dan jumlah penonton tidak pernah dihitung sebagai poin. Ia juga mengakui tidak memiliki akses ke sponsor dengan kekuatan finansial sebesar klub-klub di barat. Meski begitu, menurut dia, banyak pihak sebenarnya sepakat bahwa sistem yang berjalan sekarang tidak masuk akal dan semua pihak perlu berkompromi. Kritiknya diarahkan kepada sejumlah pejabat yang dinilainya lebih mengutamakan kepentingan dan posisi pribadi daripada kepentingan umum sepak bola Jerman.

Model Kompas: Empat Liga dengan Batas Wilayah Fleksibel

Dorongan terbaru untuk perubahan justru datang dari kawasan timur. Pada Maret 2025, sejumlah klub meluncurkan kampanye dengan slogan “Meister müssen aufsteigen!”, yang berarti juara harus promosi. Gagasan utamanya adalah memangkas jumlah liga regional dari lima menjadi empat, dengan batas geografis yang ditentukan ulang setiap musim menggunakan bantuan kecerdasan buatan.

Perhitungan batas wilayah itu mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jarak perjalanan ke laga tandang dan potensi derbi yang menarik penonton. Pendekatan inilah yang disebut model kompas, karena arahnya bisa berubah ke mana saja sesuai kebutuhan. Sebagai kompensasi, Regionalliga Nordost bersedia melepaskan keterikatan emosionalnya pada teritori bekas Jerman Timur.

Chief Executive Chemnitzer FC, Tommy Haeder, yang berusia 35 tahun, menjadi tokoh utama di balik kampanye ini. Ia ingin keluar dari debat timur versus barat karena menilai telah terjadi pergantian generasi di kalangan pengurus, dengan banyak pejabat lama yang pensiun dan digantikan orang-orang muda tanpa nostalgia terhadap GDR. Haeder juga menekankan manfaat sistem promosi yang lebih adil bagi pembinaan talenta muda di kawasan timur.

Kampanye tersebut mendapat dukungan lebih dari 80 klub di seluruh Jerman, dari timur hingga barat dan dari berbagai level piramida. Union Berlin, yang sempat bermain di kasta keempat pada dekade 2000-an, menjadi klub Bundesliga pertama yang mendukung resmi inisiatif ini. Presiden klub, Dirk Zingler, menilai sistem yang berlaku sekarang bertentangan dengan pemahaman mereka tentang kompetisi olahraga. Dukungan juga datang dari Presiden Borussia Dortmund sekaligus ketua Bundesliga, Hans-Joachim Watzke, serta pelatih Bournemouth, Marco Rose, yang pernah menjadi pemain dan pelatih di Lok Leipzig.

Voting Juni yang Berujung Kekacauan

Tekanan untuk berubah semakin kuat menjelang voting kunci pada akhir Juni. Setelah berbulan-bulan berdiskusi, klub-klub akhirnya dijadwalkan memberikan suara atas model kompas. Namun proses itu berubah menjadi kekacauan karena, pada menit terakhir, federasi regional yang menyelenggarakan pemungutan suara mengumumkan dua perubahan penting.

Perubahan pertama, empat liga baru disebut hanya akan berisi 18 tim, bukan 20, sehingga model kompas menjadi kurang menarik karena sepuluh tim tambahan akan kehilangan tempat. Perubahan kedua, ditambahkan syarat bahwa model harus memperoleh mayoritas suara di masing-masing dari lima wilayah agar bisa lolos.

Hasilnya tetap menunjukkan mayoritas keseluruhan sebesar 50,9 persen mendukung model kompas, termasuk 60,9 persen di Barat, 61,5 persen di Utara, dan 76,3 persen di Timur Laut. Namun wilayah Barat Daya memilih opsi alternatif, yaitu membubarkan liga timur laut dan merelokasi klub-klubnya, sementara liga Barat Daya dan Barat tetap seperti sekarang. Bavaria sendiri memberikan suara yang tidak tegas dan memilih “pembicaraan lebih lanjut”.

Penolakan datang dari sejumlah pengurus klub. Robert Lempka, Chief Executive klub Regionalliga Barat Daya FSV Frankfurt, menilai peralihan dari sistem yang sudah berjalan ke model yang rumit, tidak pasti, dan berisiko secara ekonomi tanpa manfaat jelas adalah hal yang tidak masuk akal. Ia juga merasa tidak nyaman jika algoritma yang tidak transparan menentukan masa depan sebuah klub. Sementara itu, Presiden Federasi Sepak Bola Bavaria (BFV), Christoph Kern, menyatakan tidak bersedia menyerahkan Regionalliga Bayern begitu saja karena tidak ada model yang mendapat dukungan mayoritas klub di wilayahnya.

Gelombang Protes Pemain dan Suporter di Seluruh Jerman

Bagi Haeder, hasil voting itu adalah bencana mutlak dan sepenuhnya amatir. Perasaan serupa dirasakan banyak pihak lain, dan musim ini protes meletus di berbagai penjuru sepak bola Jerman. Di Regionalliga Nordost, hampir setiap pertandingan dimulai dengan penundaan karena para pemain menolak bermain selama satu menit pertama.

Pada hari pembukaan, pendukung Lok Leipzig, yang timnya masih terjebak di divisi yang sama, melemparkan ratusan trofi plastik ke lapangan. Aksi itu menjadi simbol bahwa gelar juara berturut-turut klub mereka tidak bernilai apa pun dalam sistem yang berlaku. Di Bavaria, ultras Bayern Munich menghadiri laga tim cadangan di liga regional dengan koreografi rumit yang mengkritik BFV karena dianggap tidak kooperatif.

Dalam koreografi tersebut muncul pesan yang menuduh pihak federasi telah cukup lama menganggap suporter sebagai orang bodoh. Ultras kemudian menyalakan piroteknik merah yang mengarahkan jarum kompas kembali ke arah penonton. Menjelang jeda internasional, pendukung klub-klub Bundesliga juga menyuarakan tuntutan reformasi lewat spanduk terkoordinasi yang menyatakan bahwa klub dan suporter dikhianati serta menuntut model kompas segera diterapkan.

Apa Artinya bagi Pembinaan Talenta dan Masa Depan Kompetisi

Di balik persoalan promosi, ada implikasi yang lebih luas bagi ekosistem sepak bola Jerman. Haeder menilai sistem yang ada saat ini merugikan pembinaan talenta, karena pemain muda dari Chemnitz terpaksa meninggalkan rumah dan keluarga pada usia 10 tahun untuk bergabung dengan akademi di Hamburg, Dortmund, atau Stuttgart. Model kompas, menurutnya, adalah cara setiap wilayah mengorbankan sedikit kepentingan demi menyelesaikan masalah yang jauh lebih besar.

Argumen itu menjelaskan mengapa dukungan terhadap reformasi tidak hanya datang dari klub-klub kecil. Klub-klub besar yang memiliki akademi dan kepentingan jangka panjang melihat sistem promosi yang adil sebagai bagian dari rantai pembinaan nasional. Tanpa jalur promosi yang jelas, klub-klub daerah kehilangan insentif untuk menahan pemain muda lebih lama dan mengembangkan mereka di lingkungan asal.

Setelah gelombang protes, kompas tampaknya mulai menunjuk ke arah penyelesaian. DFB mengumumkan rapat umum luar biasa pada 18 Desember, dan Presiden Bernd Neuendorf menyatakan persoalan ini harus diselesaikan. Menurutnya, model kompas memperoleh suara terbanyak dan menawarkan peluang terbaik untuk memusatkan performa elite sekaligus memperbaiki pengembangan talenta. Namun jika pun disetujui, perubahan baru akan diterapkan pada musim 2028-29.

Penutup

Bagi Ziane, tenggat 2028-29 terlalu jauh. Kini berusia 34 tahun, ia telah menjalani musim ke-13 bersama Lok Leipzig, klub kampung halamannya, dengan dua gelar juara berturut-turut tetapi tetap bermain di kasta keempat. Ia mengaku tidak akan pernah sepenuhnya melupakan kekecewaan itu, karena 3. Liga mungkin merupakan puncak tertinggi yang bisa dicapai klub sekaliber mereka, dan promosi bersama klub kampung halaman akan menjadi hal paling indah dalam kariernya.

Yang tersisa bagi Lok Leipzig dan klub-klub sejenis adalah paradoks yang sulit diterima: mereka harus memaksa diri mengingat kembali pencapaian mereka sendiri. Memenangi Regionalliga Nordost adalah pekerjaan yang sangat berat, dan melakukannya dua kali berturut-turut bukan hal yang bisa dianggap biasa. Selama sistem promosi belum diubah, prestasi itu akan terus terasa seperti trofi plastik yang dilempar ke lapangan.